"Jadwal saya sangat padat. Saya tidak bisa berjanji. Saya harus pergi ke Rusia, saya harus pergi ke Israel," ujar Duterte sebagaimana dikutip The Independent, Senin (1/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dengan mendukung Duterte dan kampanye anti-narkobanya, Trump secara secara moral terlibat dalam pembunuhan yang akan terjadi selanjutnya," ujar direktur advokasi Asia dari Human Rights Watch, John Sifton, kepada The Independent.
Menanggapi kritik ini, Kepala Staf Gedung Putih, Reince Priebus, mengatakan bahwa fokus perbincangan Trump dan Duterte adalah masalah program rudal dan nuklir Korea Utara yang kian mengkhawatirkan.
Priebus mengatakan, kerja sama dengan Filipina dan negara Asia lainnya merupakan kunci penyelesaian masalah Korut ini. Trump pun turut mengundang para pemimpin dari Thailand dan Singapura.