Proses evakuasi kamp dilakukan oleh sekitar 350 aparat polisi bersama dengan 100 pegawai pemerintah kota sejak Selasa (9/5) dini hari. Kebanyakan imigran yang tinggal di penampungan kumuh itu berasal dari Afghanistan dan Sudan.
"Kamp ilegal ini menimbulkan risiko keamanan dan kesehatan para penguhuninya serta warga setempat," bunyi pernyataan kepolisian Paris.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penampungan itu didirikan guna menarik masuk pencari suaka yang tinggal di jalanan. Namun, kapasitas bangunan itu terbatas, dengan jumlah pengungsi yang terus bertambah.
April lalu, polisi sempat menghentikan perkelahian antara imigran yang terjadi di kamp tersebut, mengakibatkan sejumlah korban luka.
Lihat juga:Bias Anti-Muslim di AS Meningkat Pada 2016 |
Said merupakan satu di antara sekian banyak yang telah tinggal di kamp itu selama berbulan-bulan. Dia bahkan telah tidur di luar selama tiga bulan lebih.
Bulan lalu, sebuah kebakaran melahap salah satu kamp imigran terbesar di Perancis di dekat Pelabuhan Dunkirk, bagian utara Perancis. Kebakaran itu dipicu setelah insiden perkelahian melibatkan ratusan orang Afghanistan dan Kurdi terjadi.
Diberitakan AFP, penampungan itu menampung sekitar 1.500 orang.
Sejumlah perang dan kemiskinan terus terjadi dan bermunculan di Timur Tengah, Asia Selatan, dan Afrika membuat ratusan ribu warga di kawasan melarikan diri keluar negaranya dan mencari tempat aman.
Perancis merupakan salah satu negara di Eropa yang menerima sebagian kecil dari gelombang pendatang baru yang menyerbu kawasan dalam dua tahun terakhir.