Para imigran yang kebanyakan berasal dari Somalia ini mengaku lebih baik mengulang masa kelam mereka ketika kabur dari negaranya menuju AS dulu ketimbang harus diusir oleh Presiden Donald Trump.
"Kami sudah mendengar mengenai cuaca dingin yang mematikan itu, tapi kami tidak punya pilihan lain," ujar seorang imigran bernama Mohammad Kosar kepada media massa lokal, Winnipeg Free Press, sebagaimana dikutip AFP, Rabu (8/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meskipun hakim di Washington sudah menangguhkan perintah itu, para imigran ini tetap saja takut akan ada sentimen negatif terhadap mereka.
Ketika melihat Perdana Menteri Kanada, Justin Trudeau, menerima pengungsi dari Suriah dengan tangan terbuka pada tahun lalu, mereka mengaku melihat sedikit harapan.
Mereka kian yakin ketika Trudeau menunjuk seorang kelahiran Somalia untuk menjadi menteri imigrasi Kanada pada bulan lalu.
Sesampainya di Kanada, para imigran itu memanggil kepolisian federal untuk meminta bantuan. Mereka kemudian dibawa ke pos perbatasan di Emerson, Manitoba.
"Mereka biasanya memanggil kami jika kedinginan atau tersesat dan kami akan menemukan mereka di pinggir jalan tol. Satu dari dua di antara mereka biasanya sudah kehilangan jarinya karena beku," ujar seorang anggota kepolisian Kanada, Paul Manaigre.
Manaigre mengatakan, para pengungsi itu biasanya datang berkelompok, sekitar empat hingga lima orang. Belakangan, jumlah pengungsi yang datang berjalan kaki ke Kanada meningkat. Namun, ia tak dapat memberikan angka pasti.
Kelompok terakhir yang tiba pada Sabtu lalu berjumlah 19 orang. Menurut Manaigre, para pengungsi itu tiba di Kanada dalam keadaan menggigil setelah berjalan kaki menerjang udara dingin selama lima jam. (has)