Eks Direktur CIA Sebut Tim Kampanye Trump Kontak dengan Rusia

Reuters, CNN Indonesia | Rabu, 24/05/2017 08:08 WIB
Eks Direktur CIA Sebut Tim Kampanye Trump Kontak dengan Rusia Tim kampanye Donald Trump disebut sempat berhubungan dengan Rusia saat pemilu AS 2016 lalu. (REUTERS/Jonathan Ernst)
Jakarta, CNN Indonesia -- Mantan Direktur Badan Intelijen Pusat (CIA) John Brennan menyatakan sempat mengetahui kontak antara tim kampanye Presiden Amerika Serikat Donald Trump dengan Rusia dalam pemilihan umum 2016. Dia pun khawatir Moskow mencoba memancing warga Amerika ke "jalan pengkhianatan."

Mengepalai badan intel itu hingga Trump menjabat pada Januari lalu, Brennan juga mengatakan kepada Kongres bahwa dirinya secara pribadi telah memperingatkan badan keamanan Rusia, FSB, melalui sambungan telepon. Ia mengatakan ikut campur Kremlin dalam pemilu bisa merusak hubungan kedua negara.

Secara terpisah, pejabat tinggi intelijen AS, Dan Coats, menepikan pertanyaan soal laporan Washington Post yang menyebut Trump memintanya dan kepala Badan Keamanan Nasional (NSA) untuk membantu membantah tudingan kolusi dengan Rusia. Namun, Coats mengatakan dirinya sudah menegaskan kepada pemerintahan Trump bahwa "pembentukan politik dalam bentuk apapun" pada badan intelijen tidak pantas dilakukan.
Komentar Brennan dan Coats menambah pelik kontroversi yang telah menenggelamkan Trump sejak ia memecat Direktur FBI James Comey, dua pekan lalu. Pemecatan itu berujung masalah karena para penyidiknya sedang mendalami kemungkinan kolusi tim kampanye Trump dengan Rusia.

"Saya mengalami dan mengetahui informasi dan intelijen yang mengungkap kontak serta interaksi antara pejabat-pejabat Rusia dan warga AS yang terlibat dalam kampanye Trump," kata Brennan dalam pengakuannya di hadapan Komite Intelijen Dewan Perwakilan, dikutip Reuters, Rabu (24/5).

Walau demikian, dia menyatakan tidak bisa memastikan dugaan kolusi tersebut memang benar terjadi.

Pengakuan Brennan menjadi konfirmasi publik pertama atas kekhawatiran di tingkat atas pemerintahan AS tahun lalu soal kontak mencurigakan antara kampanye Trump dan Moskow. Ini juga jadi penjelasan paling lengkap soal pandangan CIA saat badan-badan intelijen mengumpulkan bukti terkait ikut campur Rusia memenangkan Trump atas rivalnya, Hillary Clinton.
Sebelum dipecat, Comey mengepalai investigasi terkait hal tersebut. Karena itu, pemecatannya dianggap sejumlah kritik sebagai upaya Trump menghalangi penyidikan FBI.

Sementara itu, Trump menunjuk Marc Kasowitz, pengacara asal New York yang perrnah mewakilinya di masa lalu, sebagai pengacara pribadi dalam penyelidikan konsul khusus Rubert Mueller terkait masalah Rusia ini.

Sejumlah badan intelijen AS pada Januari lalu menyimpulkan bahwa Moskow mencoba untuk memengaruhi pemilu dalam rangka memenangkan Trump. Upaya tersebut termasuk peretasan terhadap surat elektronik Partai Demokrat--tudingan yang berulang kali ditampik Rusia.

Trump pun menampik telah berkolusi, tapi penyelidikan FBI dan Kongres terus menghantuinya di awal masa pemerintahan.
"Semestinya jelas bagi semua pihak bahwa Rusia ikut campur dalam proses pemilihan presiden kita 2016 lalu dan mereka melaksanakan aktivitas itu meski kami sudah melontarkan protes keras dan jelas," kata Brennan.

Brennan mengatakan dirinya khawatir Rusia mencoba merekrut warga Amerika untuk bekerja dengan Moskow saat kampanye pemilihan umum. Menurutnya, bisa juga seseorang membantu Kremlin di luar kesadarannya.

"Mereka (Rusia) mencoba untuk memengaruhi sejumlah individu, termasuk warga AS, untuk bertindak mewakili mereka baik secara sadar atau tidak," ujarnya. "Individu yang mengambil jalan pengkhianatan kerap tidak sadar hingga semuanya sudah terlambat."