Apartemen London Terbakar, Warga Protes Pengamanan Gedung

Riva Dessthania Suastha , CNN Indonesia | Jumat, 16/06/2017 12:03 WIB
Apartemen London Terbakar, Warga Protes Pengamanan Gedung (Foto: REUTERS/Neil Hall)
Jakarta, CNN Indonesia -- Warga mulai bertanya-tanya dan memprotes pemerintah kota London terkait pengamanan gedung Grenfell Tower yang terbakar pada Rabu (14/6) dini hari hingga menewaskan sedikitnya 17 orang.

Meski Otoritas keamanan masih belum mengetahui penyebab kebakaran yang terjadi selama 36 jam tersebut, ada yang mengatakan sebaran api yang sangat cepat meluas itu disebabkan kelongsong yang dipasang pada luar dinding beton bangunan yang berdiri sejak 1970 itu.

Kelongsong tersebut dilaporkan berjenis serupa dengan yang digunakan pada gedung bertingkat tinggi di Perancis, Uni Emirat Arab, dan Australia yang juga mengalami kebakaran seperti ini.

"Berapa anak-anak yang tewas? apa yang akan Anda lakukan? Anda bisa lihat kemarahan masyarakat di sini," ucap seorang anak laki-laki kepada Wali Kota Sadiq Khan saat meninjau lokasi kebakaran, Jumat (16/6).

"Banyak orang yang khawatir tentang apartemen ini, tapi juga tempat tinggal di gedung-gedung lainya di sekitar London," katanya.


Meski begitu, Rydon, perusahaan yang bertanggung jawab atas pemasangan kelongsong di apartemen itu, mengatakan penggunaan kelongsong tersebut telah "memenuhi semua standar bangunan yang dibutuhkan."

Namun, hingga kini belum ditemukan hubungan kebakaran dengan kelongsong pada eksterior menara tersebut.

Selain Kelongsong, warga juga berdebat soal tak adanya sistem penanggulangan kebakaran yang dikenal dengan sistem pemadam api (spinkler) di apartemen itu yang bisa membantu menghentikan penyebaran api jika ada kebakaran.

Bahkan, sistem alarm pusat yang bisa memberitahu seluruh penghuni gedung pun tak dipasang pada apartemen itu.

Selama ini, penghuni di Grenfell Tower merasa keamanan mereka diabaikan pemerintah. Padahal, apartemen itu terletak di Kensington utara, tidak jauh dari kompleks perumahan mewah di Notting Hill.


Asosisasi Penghuni menara Grenfell pun menuturkan manajemen bangunan tersebut gagal memperhatikan seruan warga untuk meningkatkan sistem pengamanan kebakaran gedung.

Menanggapi insiden ini, Perdana Menteri Theresa May memerintahkan penyelidikan publik mengenai status kondisi bangunan dan insiden kebakaran.

Jumlah korban tewas bahkan diprediksi masih akan terus bertambah. Komandan Kepolisian Stuart Cundy merasa pesimis akan menemukan korban selamat dalam bangunan yang diisi sekitar 600 orang itu.

"Ada risiko kami tak bisa identifikasi seluruh jenazah. Proses [identifikasi] akan sangat lama, bisa hingga berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan," paparnya.

Dari ketujuh-belas korban meninggal yang telah ditemukan petugas, enam diantaranya ditemukan di luar gedung. Sementara 11 jenazah lainnya belum bisa dievakuasi lantaran situasi disebut belum cukup aman.

"Mereka [korban tewas] sama sekali tidak bisa dikenali identitasnya seluruh tubuhnya terbakar," kata Fiona McCormack dari tim identifikasi kepolisian, seperti dikutip AFP.

Salah satu yang bisa dikenali merupakan seorang pengungsi dari Suriah bernama Mohammed Alhajali, 23, yang datang ke Inggris pada 2014 bersama saudara laki-lakinya untuk melarikan diri dari perang sipil di negaranya.

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
Apartemen London Dilalap Api