Jokowi Pamer Kesuksesan Deradikalisasi Indonesia di KTT G20

Rizky Sekar Afrisia, CNN Indonesia | Sabtu, 08/07/2017 00:46 WIB
Jokowi Pamer Kesuksesan Deradikalisasi Indonesia di KTT G20 Joko Widodo saat menghadiri KTT G20 di Jerman, Jumat (7/7). (REUTERS/John MACDOUGALL/POOL)
Jakarta, CNN Indonesia -- Joko Widodo bicara soal pentingnya negara-negara di dunia bersatu melawan terorisme. Itu disampaikan Jokowi dalam sambutannya saat menghadiri KTT G20 di Hamburg, Jerman, Jumat (7/7), seperti dikutip dari Biro Pers, Media dan Informasi Sekretariat Presiden.

Jokowi membuka sambutannya dengan semangat bahwa dunia tidak bisa tinggal diam melihat teror. “Kita harus bersatu untuk memerangi ancaman terorisme,” tegasnya.

Ia kemudian mencontohkan bagaimana Indonesia nenanggulangi terorisme. Program deradikalisasi, menurutnya, ampuh menurunkan tingkat keinginan para mantan teroris untuk mengulangi aksinya. Dari situ ia belajar, hard power dan soft power harus diseimbangkan.



“Sejarah telah mengajarkan kita bahwa senjata dan kekuatan militer tidak bisa memberantas terorisme. Pikiran sesat hanya bisa dikoreksi dengan cara berpikir yang benar. Untuk itu pendekatan soft power berupa deradikalisasi dapat terus dilanjutkan,” tuturnya.

Ia mengungkapkan, deradikalisasi di Indonesia membuat hanya tiga dari 560 mantan teroris yang ingin kembali melakukan aksinya. Artinya, itu hanya 0,53 persen. Salah satu caranya, menggunakan pemilik akun media sosial berpengaruh untuk menyebar pesan perdamaian.

“Dua organisasi Islam terbesar di Indonesia, Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama juga berperan penting dalam menyebarkan perdamaian dan ajaran Islam yang toleran,” ujarnya.


Kalau itu bisa diterapkan di tataran dalam negeri masing-masing negara, Jokowi juga mengungkapkan hal lain yang bisa dilakukan seluruh negara sebagai kesatuan.

Salah satunya, pengawasan negara-negara terutama yang tergabung dalam G20 terhadap aliran dana kepada jaringan kelompok radikal dan teroris. Indonesia sendiri didukung negara-negara G20 untuk menjadi anggota The Financial Action Task Force (FATF).

“Yang ke-dua adalah, dengan kemampuan teknolgi informasi, G20 harus menjadi kekuatan pendorong dalam penyebaran kontra-naratif dengan penekanan pada gerakan moderasi dan penyebaran nilai-nilai damai dan toleran,” ujar Jokowi melanjutkan.


Negara-negara G20, dianggap Jokowi juga harus bisa mencarikan solusi atas ketidaksetaraan dan ketidakadilan ekonomi, yang bisa berujung pada inisiasi terorisme. Ekonomi yang inklusif bisa mengurangi potensi radikalisme dan terorisme di dunia.

Cara lain memerangi terorisme, menurut Jokowi, adalah dengan kesediaan negara-negara G20 mengembangkan kerja sama dalam hal pertukaran intelijen, penanganan foreign terrorist fighters (FTF), serta pengembangan capacity building dengan negara lain.

Teorisme dipandangnya sebagai prioritas, mengingat ISIS sebagai kelompok radikal paling berpengaruh saat ini, sudah merajalela di seluruh dunia. Marawi, salah satu buktinya.


“Kasus Marawi merupakan panggilan untuk kita semua bahwa jaringan ISIS kini telah menyebar dan afiliasi dengan teroris lokal terus terjadi,” kata Jokowi.

Indonesia, ia melanjutkan, berinisiatif melakukan perundingan trilateral bersama Malaysia dan Filipina. ASEAN juga akan bekerja sama dengan Australia untuk memberantas teroris di kawasan Asia Pasifik. Itu membuktikan pentingnya kerja sama negara-negara di dunia.

Jokowi menghadiri KTT G20 yang dilangsungkan selama dua hari, Jumat (7/7) sampai Sabtu (8/7) bersama Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Menteri Keuangan Sri Mulyani, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, dan Kepala BKPM Thomas Lembong. (rsa)