China Hapus Ucapan Duka Cita Bagi Liu Xiaobo di Medsos

Lesthia Kertopati, CNN Indonesia | Sabtu, 15/07/2017 04:49 WIB
China Hapus Ucapan Duka Cita Bagi Liu Xiaobo di Medsos Pemerintah China melarang ucapan duka cita atas kematian Liu Xiaobo di media sosial. (AFP PHOTO / STR)
Jakarta, CNN Indonesia -- Badan Sensor China menghapus berbagai ucapan duka cita atas meninggalnya pemenang Nobel Perdamaian Liu Xiaobo, yang diunggah netizen. Bahkan unggahan emoji berbentuk lilin dan bunga pun ikut dihilangkan dari internet.   

Liu Xiaobo, pemenang Nobel Perdamaian dan aktivis Tiananmen Square, meninggal pada Kamis (13/7), di usia 61 tahun, setelah berjuang melawan kanker hati stadium 4 yang dia derita. Hingga akhir hayatnya, Liu masih berstatus sebagai tahanan.

Bahkan, rumah sakit di Shenyang, tempat dia dirawat pun dijaga ketat oleh polisi.


Berita mengenai kematian Liu tidak ditemukan sama sekali di mesin pencari khusus China, Baidu. Sementara situs mikroblogging serupa Twitter milik China, Weibo, memblok penggunaan nama ataupun insialnya ‘LXB’.

Selain itu, seluruh tribut dan ucapan duka cita dari warga yang bersimpati di Weibo, dihapus.
Salah satu netizen yang menulis ‘RIP’ di akunnya, tanpa menyebutkan nama Liu, mendapat pesan dari badan sensor pemerintah untuk menghapus unggahan itu. Alasannya, unggahan itu “melanggar hukum dan regulasi pemerintah”.

Singkatan Rest In Peace (RIP) yang berarti beristirahat dengan tenang itu juga dilarang penggunaannya di seluruh media sosial China.

Para netizen yang menggunakan emoji lilin dan bunga di Weibo, menyebut unggahan mereka dihapus. Bahkan saat mengakses Weibo di komputer, emoji tidak lagi ada dalam barisan emotikon yang tersedia.

Sementara, saat diakses melalui ponsel, emoji lilin masih tersedia di layanan Weibo. Hanya saja, saat hendak digunakan, terdapat peringatan ‘konten ilegal’ yang muncul di layar.

Selain itu, kata lilin dalam bahasa China pun tidak bisa diunggah di media sosial.

Pemerintah China memang bisa dengan mudah menghapus konten yang tidak disetujui di internet. Pasalnya mereka menggunakan sistem sensor yang disebut ‘Great Firewall’ guna menyeleksi ketat konten di sosial media.
Tidak hanya soal Liu, kisah mengenai Carl von Ossietzky, pemenang Nobel Perdamaian asal Jerman yang ditahan Nazi, juga tidak bisa ditemukan di media China.

Pemberitaan mengenai Liu hanya bisa ditemukan di media luar. Di mesin pencari China, Baidu, kata kunci Liu Xiaobo dan hadiah Nobel perdamaian yang dia terima pada 2010, tidak bisa ditemukan.

Meskipun begitu, warganet tetap berusaha membuat seluruh negara mengingat Liu.

“Dia [Liu] adalah seorang pemberani dan sejarah akan mengingat dia, baik dalam keadaan hidup atau mati,” tulis salah seorang pengguna Weibo, sebelum kemudian dihapus.

Lainnya menulis, “Kamu, yang baru saja dibebaskan, membuat perubahan di dunia. Kami, yang masih dalam penjara, menghormati kamu.”

Adapun dalam survei yang dilakukan AFP. Hanya satu dari 20 orang yang tahu soal Liu Xiaobo. Lainnya, tidak mengetahui soal kematian atau bahkan siapa Liu.

“Siapa dia? selebriti internet?” tanya Liu Weiwu, seorang penjaga toko di dekat rumah sakit.

Hanya beberapa media China, termasuk Xinhua, yang memberitakan soal kematian Liu.