Al-Aqsa Memanas, Trump Kirim Utusan ke Israel

Rinaldy Sofwan, CNN Indonesia | Senin, 24/07/2017 12:34 WIB
Presiden Trump mengirim utusan untuk meredakan ketegangan otoritas Israel dengan warga Palestina terkait pembatasan ibadah di Masjid Al-Aqsa. Presiden Trump (kiri) mengirim utusan ke Israel untuk meredakan ketegangan di kawasan. (Reuters/Jonathan Ernst)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengirim utusan untuk meredakan situasi di Yerusalem yang memanas karena pembatasan ibadah di Masjid Al-Aqsa oleh otoritas Israel.

Jason Greenblatt, utusan untuk proses perdamaian dari AS, akan tiba di Israel hari ini, Senin (24/7). Seorang pejabat di pemerintahan Trump menyebut kedatangan Greenblatt untuk "mendukung upaya mengurangi ketegangan di kawasan."

Dalam kunjungannya, Greenblatt diperkirakan akan berhubungan dengan penasihat senior Trump, Jared Kushner, dan melaporkan perkembangan terkini kepadanya.
"Presiden Trump dan pemerintahannya memerhatikan peristiwa yang terjadi di kawasan dengan saksama," kata pejabat senior yang dikutip Haaretz. "Kami berdiskusi dengan pihak terkait dan berkomitmen untuk mencari jalan keluar dari masalah keamanan yang sedang berlangsung."


Gedung Putih pun mengungkapkan keprihatinannya dengan meminta Israel dan Yordania melakukan upaya untuk meredam ketegangan.

"Amerika Serikat sangat prihatin dengan ketegangan yang terjadi di Bukit Bait Suci atau Haram Al-Sharif, situs suci bagi Yahudi, Muslim dan Kristen. Kami meminta Israel dan kerajaan Yordania untuk meredam ketegangan dan mencari solusi demi menjamin keamanan publik dan mempertahankan status quo di situs tersebut," bunyi pernyataan Gedung Putih.

"Amerika Serikat akan terus memantau perkembangan ini," ujarnya.
Kecewa atas tindakan yang dipandang sebagai pelanggaran atas perjanjian yang telah berlangsung selama beberapa dekade, banyak warga Palestina yang tidak mau melewati detektor logam itu dan memilih untuk beribadah di jalanan atau menggelar protes.

Reuters melaporkan terjadi beberapa bentrokan antara jemaat Muslim dan aparat keamanan Israel setelah salat Isya di pintu Kota Tua Yerusalem, Minggu malam. Sumber dari otoritas medis Palestina mengatakan tidak ada luka-luka serius.

Memuncaknya ketegangan dan kematian tiga orang Israel serta empat warga Palestina dalam kekerasan yang terjadi dua hari sebelumnya berturut-turut memicu kekhawatiran internasional dan memaksa Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa menyelenggarakan rapat untuk menenangkan suasana.