Keberadaan gerbang pendeteksi yang dipasang sebagai respons atas pembunuhan dua polisi Israel itu telah memicu bentrokan berdarah yang memakan banyak korban luka dan merenggut nyawa.
"Jika Israel ingin koordinasi keamanan untuk dimulai kembali, mereka harus menarik langkah tersebut," kata Abbas dalam pidato yang dikutip Reuters, Senin (24/7), merujuk pada pemasangan alat itu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di hari yang sama, seorang warga Palestina menikam tiga orang Israel di Tepi Barat setelah bersumpah di Facebook akan mengangkat pisau demi Al-Aqsa.
Sementara seorang warga Palestina tewas di Yerusalem pada Sabtu, ketika alat peledak yang sedang dia rakit meledak sebelum waktunya, kata militer Israel. Petugas medis Palestina menyebut korban tewas karena terkena serpihan di bagian dada dan perut.
Erdan menyatakan Israel pada akhirnya mungkin menyingkirkan detektor logam tersebut setelah peninjauan ulang. Alternatifnya, kemungkinan polisi akan menambah pasukan keamnan di pintu masuk kompleks masjid dan memasang CCTV dengan kemampuan deteksi wajah.
"Banyak, walau bagaimanapun, jemaat yang dieknal polisi, yang sudah biasa beribadah di sana, dan orang-orang lanjut usia dan seterusnya, sehingga direkomendasikan untuk menghindari penggunaan detektor logam," kata Erdan kepada Army Radio sebagaimana dikutip Reuters, menyiratkan hanya orang-orang tertentu yang mesti melalui pemeriksaan tambahan.
Walau demikian, alternatif tersebut hingga kini masih belum disiapkan.