Abbas Ultimatum Israel soal Al-Aqsa

Reuters, CNN Indonesia | Senin, 24/07/2017 08:32 WIB
Abbas Ultimatum Israel soal Al-Aqsa Presiden Palestina Mahmoud Abbas (kanan) memberi ultimatum untuk Israel agar segera mencopot detektor logam di Masjid Al-Aqsa. (OIC-ES2016/Panca Syurkani)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Palestina Mahmoud Abbas memutus koordinasi keamanan dengan Israel untuk mendesak pencopotan detektor logam di Masjid Al-Aqsa.

Keberadaan gerbang pendeteksi yang dipasang sebagai respons atas pembunuhan dua polisi Israel itu telah memicu bentrokan berdarah yang memakan banyak korban luka dan merenggut nyawa.

"Jika Israel ingin koordinasi keamanan untuk dimulai kembali, mereka harus menarik langkah tersebut," kata Abbas dalam pidato yang dikutip Reuters, Senin (24/7), merujuk pada pemasangan alat itu.
"Mereka pasti tahu pada akhirnya akan kalah, karena sudah menjadi tugas kami untuk mempertahankan keamanan di sisi kami di sini dan di sisi mereka."


Bentrokan tersebut dimulai pada Jumat, ketika pasukan keamanan Israel menembak mati tiga demonstran. Kepolisian Israel menyatakan tengah menginvestigasi peristiwa yang diungkap oleh otoritas medis Palestina itu.

Di hari yang sama, seorang warga Palestina menikam tiga orang Israel di Tepi Barat setelah bersumpah di Facebook akan mengangkat pisau demi Al-Aqsa.

Sementara seorang warga Palestina tewas di Yerusalem pada Sabtu, ketika alat peledak yang sedang dia rakit meledak sebelum waktunya, kata militer Israel. Petugas medis Palestina menyebut korban tewas karena terkena serpihan di bagian dada dan perut.
Gilad Erdan, menteri keamanan publik Israel, memberi peringatan akan potensi "ketidakstabilan skalan besar." Hal tersebut kemungkinan besar terjadi di Tepi Barat, daerah yang berada di luar kendali Abbas.

Erdan menyatakan Israel pada akhirnya mungkin menyingkirkan detektor logam tersebut setelah peninjauan ulang. Alternatifnya, kemungkinan polisi akan menambah pasukan keamnan di pintu masuk kompleks masjid dan memasang CCTV dengan kemampuan deteksi wajah.

"Banyak, walau bagaimanapun, jemaat yang dieknal polisi, yang sudah biasa beribadah di sana, dan orang-orang lanjut usia dan seterusnya, sehingga direkomendasikan untuk menghindari penggunaan detektor logam," kata Erdan kepada Army Radio sebagaimana dikutip Reuters, menyiratkan hanya orang-orang tertentu yang mesti melalui pemeriksaan tambahan.

Walau demikian, alternatif tersebut hingga kini masih belum disiapkan.