"Upaya Amerika dilakukan secara diplomatis, untuk mendapatkan hasil diplomatis, dan saya ingin terus seperti itu sekarang ini. Tragedi perang sudah diketahui dan tak perlu digambarkan lagi selain dengan kata bencana besar," ujar Mattis, sebagaimana dilansir Reuters.
Mattis tak menjabarkan lebih lanjut maksud dari jalur diplomasi tersebut. Namun pada akhir pekan lalu, AS dan anggota Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa lainnya sepakat menjatuhkan sanksi baru untuk menekan Korut agar menghentikan program rudal dan nuklirnya.
Lihat juga:Menerka Gambaran Perang Nuklir Korut-Amerika |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sanksi ini memicu amarah Korut yang kemudian mengancam akan menembakkan rudal ke Guam, wilayah AS di Pasifik. Korut bahkan sudah mulai membeberkan rencana detail penyerangan tersebut.
"Rudal Hwasong-12 akan diluncurkan oleh KPA [Tentara Rakyat Korea] dan akan melintasi langit Shimane, Hiroshima, dan Koichi di Jepang. Rudal itu akan melesat sejauh 3.356,7 kilometer selama 1.065 detik dan menghantam perairan sejauh 30 sampai 30 kilometer dari Guam," tulis kantor berita pemerintah Korut, KCNA.