Pengusiran ini dikonfirmasi oleh juru bicara Kementerian Luar Negeri AS, Heather Nauert, pada Rabu (9/8). Namun, ia enggan menjabarkan lebih lanjut mengenai insiden yang diketahui oleh AS pada akhir 2016 lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ketika mereka baru mulai melaporkan, saya hanya akan menyebutnya gejala. Butuh waktu untuk mengetahui apa yang terjadi pada mereka. Penyelidikan masih berlangsung dan kami terus memantau," katanya.
Kabar mengenai insideni ini menjadi sorotan publik karena AS dan Kuba baru saja menjalin kembali hubungan diplomatik mereka pada 2015 lalu.
Pendirian kedutaan di masing-masing negara pun menjadi simbol rujuknya dua negara setelah berseteru pasca Perang Dingin. (has)