Seorang juru bicara kantor kepresidenan mengatakan Suu Kyi membatalkan rencana itu karena dua alasan:
"Yang pertama adalah situasi terkini di negara bagian Rakhine. Kami mengalami serangan-serangan teroris dan di sana ada banyak pekerjaan terkait keamanan publik dan kemanusiaan," kata Zaw Htay.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih dari 370 ribu etnis minoritas Rohingya telah melarikan diri ke Bangladesh untuk menghindari kekerasan yang pecah sejak 25 Agustus, setara dengan 20 ribu orang per hari.
Operasi pembersihan Rohingya yang dilakukan militer Myanmar ditingkatkan setelah 12 petugas keamanan dibunuh oleh kelompok bersenjata dalam serangan terkoordinasi di pos perbatasan.
Suu Kyi telah berulang kali dikritisi karena responsnya atas krisis ini, terutama karena posisinya sebagai pembela hak asasi manusia dan pemenang Nobel Perdamaian.
[Gambas:Video CNN]
Mantan Wakil Menteri Luar Negeri AS untuk HAM TOM Malinowski mengatakan kepada CNN bahwa ia "sangat sedih" atas respons Suu Kyi terhadap krisis Rohingya di Myanmar.
Sementara itu, Indonesia terus melakukan upaya diplomasi dan mengirim bantuan kemanusiaan untuk membantu menyelesaikan krisis yang mendapatkan banyak sorotan di dalam negeri ini.
Menteri Luar Negeri Retno Marsudi memperkirakan bantuan kemanusiaan yang dikirimkan pemerintah Indonesia siang ini dapat diterima pengungsi Rohingya di Bangladesh secepatnya besok atau satu hari setelahnya.
Retno mengatakan segala hal, termasuk perizinan, sudah diselesaikan. Selanjutnya, pemerintah menangani proses pengiriman bantuan hingga peninjauan di lapangan.
"Ini kondisi tidak normal, emergency (darurat) sehingga sambil jalan sambil menyiapkan, mengurus perizinan, semuanya berjalan bersama," kata Retno.
(aal)