Pelaku Penembakan Las Vegas Bunuh Diri di Hotel Usai Beraksi

Resty Armenia, CNN Indonesia | Senin, 02/10/2017 23:23 WIB
Pelaku Penembakan Las Vegas Bunuh Diri di Hotel Usai Beraksi Stephen Paddock, pelaku penembakan massal di Las Vegas, AS membunuh dirinya sendiri di kamar hotel tempat ia menjalankan aksinya pada Minggu (1/10) malam. (David Becker/Getty Images/AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Stephen Paddock, pelaku penembakan massal di Las Vegas, Amerika Serikat membunuh dirinya sendiri di kamar hotel tempat ia menjalankan aksinya pada Minggu (1/10) malam waktu setempat.

Pria berusia 64 tahun itu menembak secara brutal di kerumuman penikmat konser musik di Las Vegas, Nevada. Ia melakukan perbuatannya di lantai 32 hotel Mandalay Bay, di dalam sebuah kamar yang disewanya sejak 28 September lalu.

Melansir CNN, setelah menjalankan aksinya, Paddock membunuh dirinya sendiri.



Paddock tinggal di rumah yang dibelinya pada 2015 lalu. Ia menjalani hidupnya secara sederhana di lingkungan komunitas pensiunan di Mesquite, Nevada. Ia pun tidak pernah masuk ke dalam ‘daftar target’ polisi.

Eric Paddock, saudara kandung Stephen, mengaku sangat terkejut atas kabar bahwa kakaknya menjadi pelaku penembakan massal dengan korban terbanyak di AS itu.

“Dia adalah saudara saya dan [kabar] ini seperti sebuah asteroid jatuh dari langit,” ujarnya kepada CNN.


Eric mengaku terakhir kali berbincang dengan Stephen saat saudaranya itu mengirim SMS dengan menanyakan kabar ibunya setelah diguncang Badai Irma selama lima hari. Sementara Stephen dan ibunya juga sempat berkomunikasi via telepon sekitar satu hingga dua pekan yang lalu.

“Ini tidak masuk akal,” ujar Eric.

Sebelumnya, kelompok militan ISIS mengklaim bahwa Paddock merupakan tentara mereka yang baru saja memeluk agama Islam beberapa bulan lalu.

“Penyerangan di Las Vegas dilakukan oleh seorang tentara ISIS dan dia melakukannya sebagai respons atas panggilan koalisi negara yang menjadi target,” papar agensi berita ISIS, Amaq, melansir Reuters.

Hal itu terkait dengan koalisi yang dipimpin AS untuk membasmi ISIS di Timur Tengah.


Meski demikian, kepolisian Las Vegas membantah klaim tersebut. Bantahan itu didukung oleh FBI yang menyebut bahwa tidak ada koneksi antara kejadian ini dengan kelompok teroris internasional manapun.

“Sementara kejadian ini terungkap, kami percaya pada titik ini bahwa tidak ada koneksi [antara kejadian ini] dengan grup teroris internasional,” ujar Aaron Rouse, agen spesial yang bertanggungjawab atas kantor FBI di Las Vegas, mengutip AFP.

Sementara itu, Sheriff Las Vegas Joseph Lombardo menyebut bahwa sejauh ini korban tewas bertambah menjadi 58 jiwa, sedangkan 515 orang lainnya luka-luka. Ini menjadi tragedi penembakan dengan korban jiwa terbanyak sepanjang sejarah Amerika Serikat.