Dicari FBI, Kekasih Penembak Las Vegas Sempat ke Filipina

Riva Dessthania Suastha, CNN Indonesia | Rabu, 04/10/2017 14:51 WIB
Dicari FBI, Kekasih Penembak Las Vegas Sempat ke Filipina Ilustrasi Bandara Internasional Los Angeles. (REUTERS/Bob Riha Jr)
Jakarta, CNN Indonesia -- Marilou Danley, kekasih pelaku penembakan massal di Las Vegas, Nevada, sempat melarikan diri ke Filipina sebelum akhirnya kembali ke Amerika Serikat hari ini, Rabu (4/10).

Kekasih Stephen Paddock dilaporkan segera meninggalkan AS setelah tragedi yang menewaskan 59 orang itu berlalu dan kini menjadi subjek penyelidikan Biro Investigasi Federal alias FBI meski tidak berstatus tersangka.

Awal pekan ini, Danley dilaporkan sempat berada di Tokyo, Jepang dan kemarin terlacak di Filipina. Setibanya di Bandara Internasional Los Angeles, 19.30 waktu setempat, dia langsung disambut agen FBI dan tidak ditahan.


FBI berharap dia mau diwawancarai secara sukarela. Otoritas Filipina menyebut Danley kembali ke AS untuk membersihkan namanya yang sempat disebut-sebut dalam insiden penembakan terbesar dalam sejarah modern AS ini.

Danley adalah warga Australia yang diketahui lahir di Filipina. Menurut catatan polisi, Danley selama ini tinggal bersama Paddock di sebuah kondominium yang terletak di perumahan pensiunan di Mesquite, Nevada, sekitar 145 kilometer dari Las Vegas.

Diberitakan Reuters, penyelidik menerima laporan bahwa sejak akhir September Danley berada di Filipina dan kembali ke AS beberapa hari sebelum penembakan.
Otoritas AS juga menyebut Paddock sempat mengirim uang sejumlah US$100 ribu ke rekening Danley saat berada di Filipina. Menurut seorang sumber yang terlibat dalam penyelidikan, uang itu dikirim untuk pembayaran asuransi jiwa Danley.

Paddock menembaki 22 ribu orang yang tengah berkerumun di acara konser musik Country di Las Vegas dari kamarnya di lantai 32 Mandalay Bay Hotel. Selain menewaskan puluhan orang, aksi brutal pensiunan akuntan yang gemar berjudi itu melukai lebih dari 500 orang.

Aparat penegak hukum hingga kini masih kebingungan menentukan motif pelaku. Mereka belum bisa menjelaskan bagaimana seseorang yang tidak punya catatan kejahatan dan tidak pernah terdeteksi berkaitan dengan kelompok teror, politik maupun kebencian bisa melakukan aksi seperti itu.

Kelompok teror ISIS sudah mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut. Namun, otoritas AS tidak percaya pada pernyataan yang tidak disertai bukti itu.
Pemerintah AS pun tidak menyebut insiden ini sebagai aksi terorisme.