Sekolah Marawi Ajarkan Anak dan Orang Tua Identifikasi Ranjau

Riva Dessthania Suastha, CNN Indonesia | Rabu, 25/10/2017 16:25 WIB
Sekolah Marawi Ajarkan Anak dan Orang Tua Identifikasi Ranjau Pemerintah dilaporkan mulai mengizinkan warga untuk tinggal dan membangun kembali kota Marawi yang telah porak-poranda akibat pertempuran dengan teroris selama lima bulan terakhir. (Reuters/Stringer)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sekolah di Marawi, Filipina, mengajarkan anak-anak dan orang tua mereka cara mengenali bom dan ranjau yang dikhawatirkan masih tersisa di sejumlah sudut kota setelah pertempuran melawan ISIS dinyatakan rampung baru-baru ini.

Di suatu desa, beberapa guru mengajari anak-anak beserta orang tua mereka untuk mengenali berbagai jenis dan bentuk mortir, granat, dan sejumlah perangkat peledak lain.

"[Latihan] ini sangat membantu kami sebagai orang tua untuk mengerti dan memberitahu anak-anak agar tidak menyentuh atau mendekati bom," tutur Sobaida Sidic, seorang ibu rumah tangga yang turut serta dalam pelatihan tersebut, sebagaimana dilansir Reuters, Rabu (25/10).
Pemerintah Filipina sendiri sudah menghentikan operasi militer di Marawi pada awal pekan ini setelah Presiden Rodrigo Duterte mendeklarasikan kota itu bebas dari pemberontak Maute yang berbaiat kepada ISIS, pada 17 Oktober lalu.


Deklarasi itu diumumkan tak lama setelah militer menewaskan Isnilon Hapilon, pemimpin kelompok militan Abu Sayyaf yang disebut-sebut sebagai "emir" ISIS Asia Tenggara. Omarkhayam Maute, salah satu pemimpin pemberontak Maute, juga dilaporkan tewas dalam operasi itu.

Pihak berwenang mengatakan sekitar 920 militan, 165 tentara dan polisi, serta 45 warga sipil tewas dalam konflik yang pecah sejak akhir Mei lalu ini. Sekitar 300 ribu penduduk pun terpaksa mengungsi keluar Marawi selama perang berlangsung.
Kini, pemerintah dilaporkan mulai mengizinkan warga untuk tinggal dan membangun kembali kota Marawi yang telah porak-poranda akibat pertempuran dengan teroris selama lima bulan terakhir.

Meski begitu, Duterte memperingatkan bangsanya untuk tetap waspada terhadap ISIS karena "tidak ada negara yang bisa lolos dari cengkraman dan kekejaman kelompok tersebut."

Duterte pun sampai saat ini belum mencabut status darurat militer di wilayah itu.