Saksi Mata Kengerian Serangan Teror di Mesjid Sinai, Mesir

CNN, CNN Indonesia | Selasa, 28/11/2017 08:18 WIB
Saksi Mata Kengerian Serangan Teror di Mesjid Sinai, Mesir Mesjid Al Rawdah, 40 kilometer dari Ibukota Sinai Utara, El-Arish. Jumat (24/11) pekan lalu, mesjid Sufi di Mesir itu menjadi sasaran teror dan bom yang menewaskan 305 orang, 27 di antaranya anak-anak.AFP PHOTO / STRINGER
Jakarta, CNN Indonesia -- Bekas bercak-bercak darah berwarna merah tua masih tampak jelas di Mesjid Rawdah, Sinai Utara, Mesir. Noda-noda itu menunjukkan lokasi-lokasi di mana para korban penembakan maupun ledakan bom seusai salat Jumat (24/11) pekan lalu.

Seorang remaja laki-laki berusia 17 tahun, masih trauma dan enggan disebut namanya saat berkisah kepada CNN. Dia takut akan pembalasan oleh kelompok penyerang, yang hingga kini belum ada yang mengaku bertanggung jawab. Meskipun otoritas Mesir menyebut bahwa menurut para saksi, para penyerang membawa bendera kelompok teroris ISIS.

"Saya melihat seorang pria berseragam militer," kenang si remaja. "Dia menembaki kami. Peluru-peluru memantul di dinding, mengenai kaki dan punggung orang-orang."


[Gambas:Video CNN]

Saat para penyerang pergi, dia masuk ke dalam mesjid. Dia mencari-cari ayahnya di antara jasad korban tewas. Sang ayah tadinya berdiri di sisinya. "Tampaknya dia tertembak di kepala meski sudah jatuh," kata si remaja. Dia dan para saksi lainnya mengatakan insiden itu terjadi sekitar satu jam.

Mohamed, saksi mata lainnya, juga minta kepada CNN untuk disebut dengan nama depannya saja. Demi keselamatan, kata dia. Mohamed sedang berada di mesjid lain saat melihat beberapa mobil melaju ke Mesjid Al Rawdah. "Saya mendengar suara tembakan, teriakan-teriakan. Saya lalu berlari menuju ke mesjid itu. Saya melihat empat orang yang saya tahu bekerja untuk tentara, mereka menembaki para penyerang, tapi kehabisan amunisi. Salah satunya, Ahmed, terbunuh setelah amunisinya habis."
Menurut data resmi, korban tewas dari serangan teror paling berdarah dalam sejarah Mesir itu adalah 305 orang. Sebanyak 27 di antaranya anak-anak.

Sabtu lalu, Kejaksaan Mesir mengeluarkan pernyataan bahwa para penyerang tiba di Mesjid Al Rawdah dengan lima kendaraan SUV. Beberapa penyerang mengenakan seragam tempur, beberapa bertopeng, bersenjata lengkap dan membawa spanduk hitam ISIS.

"Orang-orang yang bertopeng berbicara seperti orang Bedouin," kata Mohamed. "Mereka yang wajahnya terbuka, berbicara dengan aksen Kairo, mereka berbadan besar dan berambut panjang."
Afiliasi ISIS di Semenanjung Sinai dikenal sebagai Wilayat Sinai atau Provinsi Sinai. Mereka tidak mengklaim bertanggung jawab atas pembataian tersebut. Menurut HA Hellyer, peneliti dari Atlantic Council dan Royal United Services Institute, Wilayat Sinai tidak akan mengaku terus terang meskipun mereka yang melakukannya. Hal ini lantaran respons di media sosial, bahkan dari para pendukung ISIS sekalipun, mengecam insiden itu.

Serangan teror seusai salat Jumat itu merupakan kali pertama Wilayat Sinai membidik mesjid. Biasanya, mereka hanya membidik pos pemeriksaan militer dan polisi di sebelah timur laut Semenanjung Sinai.
Tahun lalu, Wilayat Sinai menyerang sebuah Gereja Kristen Koptik di Kairo, sebuah gereja di Tanta, kota di Delta Nil, serta sebuah gereja lain di Alexandria, kota di Mediterania.

Pada Oktober 2015, kelompok yang menyatakan kepatuhan (baiat) terhadap ISIS itu juga mengaku bertanggung jawab atas jatuhnya pesawat komersial Rusia, Metrojet nomor penerbangan 9268 yang menewaskan seluruh 224 penumpang dan awaknya. (nat)