Pejabat badan manajemen darurat Hawaii mengatakan uji coba sirine yang pertama sejak 30 tahun terakhir itu akan dilakukan di seluruh wilayah pada Jumat pekan ini, di saat ketegangan di Semenanjung Korea terus memanas karena ambisi nuklir Korut kian mengkhawatirkan.
"Kesiagaan darurat itu adalah mengenai tahu apa yang akan terjadi dan apa yang akan dilakukan saat menghadapi bahaya pada masa darurat terjadi," kata Kepala Badan Pengelolaan Masa Darurat Hawaii, Vern Miyagi, dalam sebuah rekaman gambar yang diunggah di situs resmi lembaga tersenut pada Selasa (28/11).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam prakteknya, sirine ini akan menyala jika pemerintah negara bagian Hawaii mendapat peringatan bahaya dari pusat komando militer AS di Pasifik. Sistem tersebut memberikan penduduk waktu sekitar 12 sampai 15 menit untuk menyelamatkan diri sebelum serangan terjadi.
Meski Hawaii tak memiliki tempat penampungan atau bunker khusus, para warga disarankan untuk berlindung di rumah masing-masing sebagai solusi terbaik mengurangi paparan radioaktif jika serangan nuklir benar-benar terjadi.
Pyongyang beberapa kali juga melontarkan ancaman akan menyerang wilayah AS di Pasifik seperti Guam dan Hawaii dengan rudal antar-benua-nya yang diklaim mampu menjangkau daratan Negeri Abang Sam itu.
Lihat juga:Korut Larang Warga Bernyanyi dan Gelar Pesta |
Oahu merupakan pulau di Hawaii tempat pangkalan militer AS, Pearl Harbour, dan juga pusat pemerintahan negara bagian.
Meski begitu, menurut Rapoza, 90 persen dari sekitar 1,4 juta penduduk Hawaii mampu bertahan hidup dari efek langsung jika serangan terjadi. Asumsi itu dia dapat berdasarkan proyeksi penilaian teknologi senjata nuklir Korea Utara.
[Gambas:Video CNN]
Sebagaimana dikutip Reuters, selain sirine antisipasi serangan nuklir, sistem peringatan serupa juga telah lama digunakan Hawaii untuk mengantisipasi badai, tsunami, dan bencana alam lainnya. Seluruh sistem peringatan tersebut terhubung langsung pada radio, televisi, dan jaringan ponsel penduduk. (nat)