Diberitakan Reuters, Paus menyampaikan hal tersebut dalam misa ruang terbuka di Yangon pada Rabu (29/11), di hari ketiga kunjungannya yang diselimuti risiko diplomatik di tengah krisis kemanusiaan akibat kekerasan militer terhadap minoritas Muslim Rohingya.
Dalam pidato sehari sebelumnya, Paus tidak menggunakan istilah 'Rohingya' yang bisa memicu kemarahan warga setempat. Dia mendapatkan masukan dari Vatikan yang khawatir penyebutan nama itu bisa memicu insiden diplomatik dan tindakan keras militer Myanmar terhadap umat minoritas Kristen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Eksodus massal dari Rakhine ke bagian selatan Bangladesh dimulai pada akhir Agustus, ketika militer meluncurkan serangan balasan untuk merespons aksi kelompok bersenjata Rohingya di sebuah pangkalan tentara dan sejumlah pos polisi.
Militer Myanmar telah menampik semua tudingan pembunuhan, pemerkosaan dan pengusiran tersebut.
Hanya sekitar 700 ribu dari 51 juta warga Myanmar yang memeluk Katolik Roma. Ribuan di antaranya menempuh perjalanan jauh ke Yangon untuk melihat Paus dan banyak di antara mereka menghadiri misa di lokasi yang sempat dijadikan tempat pacuan kuda di era kolonial Inggris.
Di antara puluhan ribu orang yang hadir adalah pendeta, biarawati, diplomat, petinggi partai Liga Nasional untuk Demokrasi pimpinan Aung San Suu Kyi, dan anggota kelompok etnis yang bernyanyi dan mengibarkan bendera Myanmar dan Vatikan sementara menunggu Paus.
(aal)