Hindari Sebut 'Rohingya', Paus Serukan Perdamaian di Myanmar

Reuters, CNN Indonesia | Rabu, 29/11/2017 14:04 WIB
Hindari Sebut 'Rohingya', Paus Serukan Perdamaian di Myanmar Paus Fransiskus menyerukan perdamaian di Myanmar meski tak menyebut nama Rohingya. (Reuters/Max Rossi)
Jakarta, CNN Indonesia -- Paus Fransiskus menyerukan perdamaian dan rekonsiliasi di Myanmar, negara yang masih terus dirundung konflik etnis dan komunal setelah bangkit dari lima dekade kepemimpinan militer.

Diberitakan Reuters, Paus menyampaikan hal tersebut dalam misa ruang terbuka di Yangon pada Rabu (29/11), di hari ketiga kunjungannya yang diselimuti risiko diplomatik di tengah krisis kemanusiaan akibat kekerasan militer terhadap minoritas Muslim Rohingya.

Dalam pidato sehari sebelumnya, Paus tidak menggunakan istilah 'Rohingya' yang bisa memicu kemarahan warga setempat. Dia mendapatkan masukan dari Vatikan yang khawatir penyebutan nama itu bisa memicu insiden diplomatik dan tindakan keras militer Myanmar terhadap umat minoritas Kristen.


Walau demikian, seruannya untuk keadilan, hak asasi manusia dan hormat untuk semua pihak dipandang bisa diterapkan dalam krisis Rohingya, kelompok etnis yang tak diakui sebagai warga negara Myanmar.

Eksodus massal dari Rakhine ke bagian selatan Bangladesh dimulai pada akhir Agustus, ketika militer meluncurkan serangan balasan untuk merespons aksi kelompok bersenjata Rohingya di sebuah pangkalan tentara dan sejumlah pos polisi.
Puluhan desa Rohingya dibakar habis, dan para pengungsi menyebut telah terjadi pembunuhan dan pemerkosaan. Amerika Serikat pada pekan lalu menyebut operasi militer itu melibatkan "kejahatan mengerikan" sebagai upaya "pembersihan etnis."

Militer Myanmar telah menampik semua tudingan pembunuhan, pemerkosaan dan pengusiran tersebut.

Hanya sekitar 700 ribu dari 51 juta warga Myanmar yang memeluk Katolik Roma. Ribuan di antaranya menempuh perjalanan jauh ke Yangon untuk melihat Paus dan banyak di antara mereka menghadiri misa di lokasi yang sempat dijadikan tempat pacuan kuda di era kolonial Inggris.

Di antara puluhan ribu orang yang hadir adalah pendeta, biarawati, diplomat, petinggi partai Liga Nasional untuk Demokrasi pimpinan Aung San Suu Kyi, dan anggota kelompok etnis yang bernyanyi dan mengibarkan bendera Myanmar dan Vatikan sementara menunggu Paus.
"Kami mungkin tak akan mendapatkan kesempatan semacam ini lagi. Paus tinggal di Roma dan kami tidak mampu pergi ke sana," kata Bo Khin (45), seorang guru yang pergi menggunakan truk ke Yangon bersama 15 saudaranya dari Mandalay. "Kami sangat senang, bahagia ia mengunjungi kami di Myanmar."

(aal)