Protes di Jalur Gaza dan Tepi Barat Diwarnai Kekerasan

Rinaldy Sofwan , CNN Indonesia | Kamis, 07/12/2017 20:20 WIB
Protes di Jalur Gaza dan Tepi Barat Diwarnai Kekerasan Ilustrasi protes keputusan Trump. (Reuters/Mohammed Salem)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kekerasan pecah di jalanan Bethlehem, Ramallah dan Yerusalem pada Kamis (7/12), menyusul pengumuman Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

Warga Palestina menggelar unjuk rasa di ketiga lokasi tersebut untuk memprotes keputusan kontroversial Trump yang telah memicu kemarahan masyarakat internasional.

Dilaporkan CNN, otoritas Israel menanggapi aksi protes itu dengan menggunakan peluru karet dan gas air mata untuk memecah konsentrasi massa.

Mengutip sumber di petugas medis dan sejumlah saksi mata, AFP melaporkan tiga warga Palestina terluka dalam bentrokan di Khan Yunis, Jalur Gaza.

Selain protes, langkah Trump juga memicu seruan pemberontakan atau intifada dari Faksi Hamas Palestina.

"Keputusan ini telah membunuh proses perdamaian, membunuh Oslo (kesepakatan) dan membunuh proses pemukiman," kata pemimpin Hamas, Ismail Haniyeh di Kota Gaza.
Haniyeh, yang terpilih sebagai pemimpin Hamas, Mei lalu, mendesak Palestina, umat Muslim dan dunia Arab untuk melawan keputusan Trump dan menyebutnya "Hari Kemarahan."

"Kami menyerukan dan berupaya meluncurkan intifada menghadapi musuh Zionis," kata Haniyeh. "Mari jadikan 8 Desember sebagai hari pertama intifada melawan penjajah."



Israel dan Amerika Serikat menganggap Hamas, yang telah bertempur melawan Israel sejak 2007, sebagai organisasi teroris. Hamas juga tidak mengakui Israel dan menggelar intifada sejak 2000-2005.

Pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota Israel diumumkan oleh Trump semalam. Kebijakan itu diambil berdasarkan undang-undang yang telah disahkan sejak 1995 silam tapi selalu ditangguhkan setiap enam bulan oleh semua presiden yang menjabat sebelumnya.
Masyarakat internasional tidak mengakui klaim pemerintah zionis atas kota yang diperebutkan karena alasan historis dan religius ini. Walau demikian, warga Israel sejak awal tetap menganggap Yerusalem sebagai ibu kota abadinya.

(aal)