Warga Palestina menggelar unjuk rasa di ketiga lokasi tersebut untuk memprotes keputusan kontroversial Trump yang telah memicu kemarahan masyarakat internasional.
Dilaporkan CNN, otoritas Israel menanggapi aksi protes itu dengan menggunakan peluru karet dan gas air mata untuk memecah konsentrasi massa.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain protes, langkah Trump juga memicu seruan pemberontakan atau intifada dari Faksi Hamas Palestina.
"Keputusan ini telah membunuh proses perdamaian, membunuh Oslo (kesepakatan) dan membunuh proses pemukiman," kata pemimpin Hamas, Ismail Haniyeh di Kota Gaza.
"Kami menyerukan dan berupaya meluncurkan intifada menghadapi musuh Zionis," kata Haniyeh. "Mari jadikan 8 Desember sebagai hari pertama intifada melawan penjajah."
[Gambas:Twitter]
Israel dan Amerika Serikat menganggap Hamas, yang telah bertempur melawan Israel sejak 2007, sebagai organisasi teroris. Hamas juga tidak mengakui Israel dan menggelar intifada sejak 2000-2005.
Pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota Israel diumumkan oleh Trump semalam. Kebijakan itu diambil berdasarkan undang-undang yang telah disahkan sejak 1995 silam tapi selalu ditangguhkan setiap enam bulan oleh semua presiden yang menjabat sebelumnya.
(aal)