Letak Geografis Jadi Tantangan Perdagangan RI-Kazakhstan

Riva Dessthania Suastha, CNN Indonesia | Selasa, 12/12/2017 18:53 WIB
Letak Geografis Jadi Tantangan Perdagangan RI-Kazakhstan Dubes Kazakhstan untuk Indonesia, Ashkat Orazbay, mengakui letak geografis menjadi tantangan dalam menjalin perdagangan dengan Indonesia. (CNN Indonesia/Riva Dessthania Suastha)
Jakarta, CNN Indonesia -- Duta Besar Kazakhstan untuk Indonesia, Ashkat Orazbay, mengungkapkan tantangan utama hubungan perdagangan antara Indonesia dan Kazakhstan bertumpu pada masalah geografis kedua negara.

“Geografi dan transportasi menjadi tantangan utama dalam meningkatkan hubungan perdagangan kedua negara. Padahal, kedua negara memiliki banyak potensi komoditas untuk dijual,” kata Orazbay.

Akibat rentang jarak kedua negara yang cukup jauh, papar Orazbay, pengiriman barang membutuhkan lebih banyak biaya. Selain itu, dia mengatakan Kazakhstan  merupakan negara yang dikelilingi daratan (landlocked) atau tanpa perbatasan laut sehingga menjadikan pengiriman barang harus melalui negara ketiga.
Meski begitu, Orazbay mengatakan perdagangan antara RI dan Kazakhstan tetap mampu berjalan. Selama ini sejumlah barang dari Kazakhstan maupun menuju Kazakhstan dikirim melalui Pelabuhan Lianyungang, China.


“Kami biasa mengirimkan barang melalui kereta api ke China terlebih dahulu, setelah itu dikirim menggunakan jalur laut melalui Pelabuhan Lianyungang untuk bisa sampai ke Indonesia. Pelabuhan tersebut menjadikan perdagangan bilateral kita lebih realistis,” ucapnya.

Sejauh ini, sejumlah komoditas seperti makanan ringan, kelapa sawit, barang tekstil, banyak diekspor Indonesia ke Astana dan sejumlah kota lainnya di Kazakhstan.

Sementara itu, Orazbay menuturkan sejumlah komoditas seperti buah ceri dan aprikot kerap dikirim negaranya ke Indonesia. Kazakhstan juga tengah mempertimbangkan untuk mengekspor gandum ke Indonesia.
Di sisi lain, meski hubungan ekonomi kedua negara terus diperkuat, nilai perdagangan antara Jakarta dan Astana masih terbilang sangat kecil dan perlu ditingkatkan.

“Saya tidak bisa menerangkan nilai perdagangan kedua negara karena memang masih sangat kecil,” katanya.

Lebih lanjut, Orazbay berharap hubungan kedua negara bisa terus diperkuat ke depannya. Kunjungan Wakil Presiden Jusuf Kalla ke Astana pada September lalu juga diharapkan mampu mempererat relasi antara kedua pemerintahan.

Komisi Kerja Sama Ekonomi Antar-pemerintah Indonesia-Kazakhstan, kata Orazbay, juga telah dibentuk untuk semakin mempermudah komunikasi antara kedua negara.

“RI-Kazakhstan sudah membentuk komisi tersebut yang masing-masing dipimpin oleh Menko Perekonomian RI dan Menteri Pembangunan Ekonomi Kazakhstan.  Rencananya, pertemuan komisi tersebut akan digelar tahun 2018 di Astana sebagai evaluasi penguatan hubungan kedua negara,” ujarnya.

(nat)