Dalam pernyataan yang tegas, Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Ryabkov menyebut Amerika Serikat telah 'melewati batas' dan bisa memicu konflik di Ukraina bagian timur, tepatnya di wilayah Donbass.
"Kelompok di Kiev yang ingin membalas dendam terus melepaskan tembakan di Donbass setiap hari, mereka tak ingin melakukan perundingan damai dan Amerika Serikat memutuskan memberikan senjata kepada mereka untuk melakukan itu," kata Ryabkov seperti dilansir dari AFP.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sehari sebelumnya, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat mengumumkan bahwa Washington telah memutuskan untuk menyediakan bantuan untuk meningkatkan kemampuan pertahanan Ukraina sebagai bagian dari upaya membantu negara tersebut membangun kapasitas pertahanan jangka panjang.
Sebelum pengumuman itu, ABC telah melaporkan bahwa Amerika Serikat berencana menyuplai rudal antitank kepada Ukraina .
"Total bantuan pertahanan sebesar $47 juta termasuk penjualan 210 misil antitank dan 35 peluncur," demikian laporan ABC.
Deputi Menteri Luar Negeri Rusia yang lain, Grigory Karasin mengatakan bahwa manuver Amerika Serikat itu dapat merusakan upaya mewujudkan kesepakatan politik di Ukraina.
Langkah itu juga akan menyulitkan penerapan Perjanjian Minsk pada 2015.
Perjanjian Minsk pada 2015 lalu yang ditandatangani oleh Rusia, Ukraina, dan sejumlah negara Eropa lainnya, berisi tentang upaya untuk mengakhiri konflik di Donbass antara Ukraina dan pemberontak yang didukung Kremlin.
"Ini tidak dapat diterima," kata Grigory.
Dia menegaskan posisi Rusia bahwa otoritas Ukraina harus bernegosiasi dengan pemberontak secara jujur dan melalui dialog langsung.
"Tak ada cara lain untuk menyelesaikan konflik internal di Ukraina," ujar Grigory.
Konflik di Donbass telah berlangsung sejak 2014 lalu sebagai imbas dari tergulingnya Presiden Ukraina Viktor Yanukovych yang pro Rusia.
Penggulingan itu memicu konflik di antara faksi-faksi politik di Ukraina yang kemudian melibatkan Rusia dan Amerika Serikat.