Trump Setop Bantuan, Anak-anak Palestina Terancam Kelaparan

Natalia Santi , CNN Indonesia | Kamis, 04/01/2018 08:27 WIB
Trump Setop Bantuan, Anak-anak Palestina Terancam Kelaparan Saeb Erekat, pejabat PLO, memperingatkan bahwa ancaman Presiden AS Donald Trump untuk menghentikan bantuan bagi UNRWA bakal membuat anak-anak Palestina kelaparan. (AFP PHOTO / SAID KHATIB)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ancaman Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk menghentikan bantuan bagi Badan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) bagi Bantuan dan Pekerjaan untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) dikhawatirkan bisa membuat anak-anak Palestina kelaparan.  

Kepala negosiator perdamaian Palestina, Saeb Erekat menyatakan selama bertahun-tahun para pemimpin Palestina beritikad baik, menggelar sejumlah pertemuan dengan pemerintah Amerika Serikat.

"Sekarang dia mengancam untuk membuat anak-anak Palestina di kamp-kamp pengungsi kelaparan, dan mengabaikan hak-hak mereka atas kesehatan dan pendidikan jika kita tidak menuruti perintahnya," kata Erekat, yang juga Ketua Komite Politik di Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) seusai pertemuan di Ramallah, seperti dilansir The Times of Israel, Kamis (4/1).



Erekat mengecam keras tindakan Trump yang tidak masuk akal terhadap Palestina. Dia menuduh Presiden AS itu, melalui tindakan-tindakannya, mendorong Israel makin memperkuat penjajahan dan rezim apartheidnya terhadap Palestina.

"Bukannya memperlakukan Palestina secara adil, Presiden Trump memilih untuk menyalahkan ketimbang menjadi perantara yang jujur," kata Erekat.

"Pernyataan-pertanyaannya melawan rakyat Palestina telah mendorong Israel untuk terus melakukan kejahatan-kejahatannya yang keji dan melanggar hukum internasional," kata Erekat menambahkan.

[Gambas:Youtube]

Langkah-langkah Trump lain yang menentang Palestina, menurut Erekat, termasuk upaya menutup misi PLO di Washington, serta undang-undang yang akan memotong bantuan ekonomi bagi PLO jika terus memberi kompensasi bagi keluarga Palestina yang dianggap teroris karena menyerang warga Israel.

"Kami menyerukan kepada Presiden Trump dan pemerintahannya untuk berdiri di sisi sejarah yang benar, menghormati hukum internasional, dan berhenti mendorong anarki internasional dan melanggar syarat-syarat mendasar bagi perdamaian," kata Erekat, yang baru-baru ini menjalani transplantasi paru-paru di Rumah Sakit Virginia.

Sebelumnya, Presiden Mahmoud Abbas merespons ancaman Trump untuk menghentikan bantuan bagi UNRWA dengan menyatakan bahwa "Yerusalem tidak untuk dijual."

"Yerusalem adalah ibu kota abadi Palestina dan itu tidak akan dijual demi emas atau miliaran (uang)," kata juru bicara Abbas Nabil Abu Rudeineh seperti dilaporkan AFP.



Trump mengancam untuk menghentikan bantuan kepada Palestina yang dianggapnya tidak mau lagi menggelar negosiasi perdamaian dengan Israel. Palestina menganggap AS tak lagi menjadi perantara yang jujur dalam proses perdamaian Israel-Palestina setelah Trump mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel. Pengakuan itu melanggar sejumlah resolusi PBB dan hukum internasional.

Tanpa ancaman Trump pun, UNRWA yang memberikan bantuan bagi pengungsi Palestina sejak 1949 telah kekurangan dana. Selama ini, Amerika Serikat menyumbang sekitar 30 persen dari anggaran UNRWA. Pada 2016, AS berkomitmen untuk memberi dana US$370 juta atau sekitar Rp5 triliun. 

Ancaman Trump untuk menghentikan bantuan bagi Palestina bisa memperparah kondisi keuangan UNRWA. Selain AS, donatur UNRWA lainnya yang terbesar adalah Uni Eropa, Arab Saudi, Jerman, Inggris, Swedia, Jepang, Swiss, Norwegia dan Belanda.

[Gambas:Video CNN] (nat)