Peringatan Serangan Rudal di Hawaii Karena Salah Tekan Tombol

Puput Tripeni Juniman , CNN Indonesia | Minggu, 14/01/2018 15:17 WIB
Peringatan Serangan Rudal di Hawaii Karena Salah Tekan Tombol Gubernur Hawaii David Ige menegaskan, peringatan serangan rudal yang beredar luas kepada masyarakat dan wisatawan di Hawai karena kekeliruan menekan tombol. (Ilustrasi/CNN Indonesia/Gilang Fauzi).
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah Hawaii, Amerika Serikat, angkat bicara terkait peringatan serangan rudal yang beredar luas kepada masyarakat setempat dan wisatawan. Menurut pemerintah setempat, informasi itu muncul lantaran kekeliruan operator dalam menekan tombol peringatan.

Gubernur Hawaii David Ige mengatakan, kesalahan operator menekan tombol berujung pada peringatan darurat serangan rudal balistik melalui berbagai kanal, seperti televisi, radio, hingga telepon seluler.

"Itu merupakan kesalahan yang terjadi saat ada perubahan petugas jaga dan seorang petugas keliru memencet tombol yang salah," ujarnya, seperti dikutip CNN.com, Minggu (14/1).

Lebih lanjut ia menyebutkan, pemerintah setempat segera mengambil langkah bertemu dengan petinggi Departemen Pertahanan Negara Bagian Hawaii dan Badan Managemen Kedaruratan Hawaii (EMA).

"Pertemuan untuk memastikan penyebab alarm palsu pagi ini dan mencegahnya terjadi lagi," tulis Ige melalui sebuah unggahan di Twitter.

Pemerintah Hawaii juga menyatakan bakal mengkaji kembali sistem peluncuran peringatan darurat agar kondisi seperti ini tidak terjadi lagi.

"Hari ini kami berpikir bencana benar-benar terjadi. Saya tahu apa yang terjadi sekarang tak bisa diterima dan banyak orang terdampak karena peristiwa ini. Saya minta maaf atas rasa sakit dan kebingungan yang dialami hari ini," tutur Ige.

Alarm palsu ini berawal dari peringatan serangan rudal pada pukul 08.07 waktu Hawaii, Sabtu (13/1).

[Gambas:Video CNN]

"Rudal balistik menyerang Hawaii. Segera cari perlindungan. Ini bukan simulasi," bunyi peringatan darurat itu.

Peringatan ini lantas membuat wisatawan panik dan gaduh. Para wisatawan berhamburan mencari tempat aman. Banyak pelancong yang diarahkan menuju barak militer dan berkumpul di depan televisi sambil menanti kabar terbaru.

Sementara, wisatawan yang sedang menyantap makan pagi di restoran buru-buru bersembunyi di balik meja. (bir)