Turki Marah AS Bantu Bentuk Pasukan Baru di Suriah

Reuters, CNN Indonesia | Senin, 15/01/2018 21:00 WIB
Turki Marah AS Bantu Bentuk Pasukan Baru di Suriah Ilustrasi pasukan SDF di Suriah. AS membantu kelompok tersebut membentuk pasukan baru dan memicu kemarahan Turki. (REUTERS/Erik De Castro)
Jakarta, CNN Indonesia -- Koalisi pimpinan Amerika Serikat bekerja sama dengan sekutu kelompok bersenjatanya di Suriah untuk membentuk pasukan perbatasan baru yang terdiri atas 3.000 personel. Langkah ini memicu kemarahan Turki yang bermusuhan dengan faksi Kurdi.

Seorang pejabat senior Turki mengatakan kepada Reuters bahwa pelatihan AS terhadap "Pasukan Keamanan Perbatasan" yang baru dibentuk itu adalah alasan pemanggilan Kuasa Usaha AS di Ankara,  Philip Kosnett pekan lalu. Juru bicara Presiden Recep Tayyip Erdogan mengatakan perkembangan situasi ini mengkhawatirkan dan tak bisa diterima.

Pasukan itu akan diterjunkan ke perbatasan wilayah yang dikuasai Pasukan Demokratis Suriah (SDF)--aliansi kelompok bersenjata di bagian utara dan timur Suriah yang didominasi YPG Kurdi.


Dalam surat elektronik kepada Reuters, Kantor Hubungan Masyarakat koalisi memastikan pembentukan pasukan tersebut. Sekitar separuh dari anggota pasukan akan diambil dari veteran SDF, sementara perekrutan sisanya masih terus berjalan.

Pasukan itu akan ditempatkan di sepanjang perbatasan dengan Turki di bagian utara, perbatasan dengan Irak di tenggara, dan tebing Sungai Euphrates yang memisahkan pasukan SDF dengan koalisi tentara pemerintah Suriah, Iran dan Rusia.
Dukungan AS terhadap SDF telah merenggangkan hubungan dengan Turki yang merupakan sekutunya di NATO. Negara tersebut memandang YPG sebagai kepanjangan Partai Pekerja Kurdistan, kelompok yang telah memberontak selama tiga dekade di Turki dan dianggap teroris oleh Uni Eropa dan Amerika.

Juru bicara Erdogan, Ibrahim Kalin, mengatakan Washington "mengambil langkah mengkhawatirkan dengan melegitimasi organisasi ini dan membuatnya bertahan lebih lama di kawasan."
Ilustrasi pasukan Kurdi.Ilustrasi pasukan SDF di Suriah. (REUTERS/Erik De Castro)
"Tidak mungkin hal ini bisa diterima," ujarnya. Dia juga mengatakan Turki "akan melanjutkan perangnya melawan organisasi teroris manapun tak peduli nama atau bentuknya dan di dalam atau di luar perbatasan."

Kelompok Kurdi utama Suriah muncul sebagai salah satu dari sedikit pemenang di perang yang berkecamuk di negara tersebut. Mereka berupaya merebut otonomi di bagian yang cukup besar di bagian utara Suriah.
Washington menentang rencana otonomi itu, meski telah mendukung SDF sebagai rekanan utama koalisi pimpinan AS melawan ISIS di Suriah.

Koalisi menyatakan pasukan perbatasan akan beroperasi di bawah komando SDF dan sekitar 230 orang tengah menjalani pelatihan.
Ilustrasi pasukan Kurdi di Suriah.Ilustrasi pasukan Kurdi di Suriah. (AFP PHOTO/DELIL SOULEIMAN)
"Setiap individu diupayakan agar bisa bertugas di area yang dekat dengan rumahnya. Karena itu, komposisi etnis pasukan akan berkaitan dengan area penugasan masing-masing."

"Lebih banyak warga Kurdi akan ditugaskan di bagian utara Suriah. Lebih banyak warga Arab akan ditugaskan di area sekitar Sungai Euphrates dan perbatasan dengan Irak di selatan," kata Kantor Humas Koalisi.
"Pasukan ini pada dasarnya adalah penyesuaian bagi sekitar 15 ribu anggota SDF untuk menjalani misi baru di Pasukan Keamanan Perbatasan di saat peperangan melawan ISIS hampir berakhir."

"Mereka akan menjaga titik-titik pemeriksaan secara profesional dan melakukan operasi kontra-bom rakitan." Selain itu, dinyatakan pula bahwa SDF dan koalisi masih berhadapan dengan pasukan ISIS di Provinsi Deir al-Zor.

Amerika Serikat punya sekitar 2.000 pasukan di Suriah untuk memerangi ISIS. Pentagon telah menyatakan siap untuk tinggal di negara itu hingga merasa yakin kelompok teror berhasil dikalahkan. Selain itu,  upaya stabilisasi bisa dipertahankan dan ada perkembangan berarti pada perundingan damai di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Pemerintah Suriah di Damaskus menyatakan AS sebagai pasukan okupasi ilegal dan SDF sebagai pengkhianat. Seorang politikus Kurdi berpengaruh mengatakan kepada Reuters pekan lalu bahwa Amerika tampaknya tidak akan segera menginggalkan Suriah.

(aal)