Negara Afrika Panggil Dubes AS soal 'Lubang Kotoran' Trump

Riva Dessthania Suastha, CNN Indonesia | Selasa, 16/01/2018 14:19 WIB
Negara Afrika Panggil Dubes AS soal  'Lubang Kotoran' Trump Sejumlah negara Afrika memanggil duta besar Amerika Serikat di negaranya sebagai protes atas pernyataan Presiden Donald Trump soal negara 'lubang kotoran'. (AFP PHOTO / NICHOLAS KAMM)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sejumlah negara Afrika memanggil duta besar Amerika Serikat di negaranya sebagai protes atas pernyataan Presiden Donald Trump yang menyebut negara-negara asal imigran ilegal sebagai "shithole countries" atau kurang lebih berarti "negara-negara lubang kotoran".

Wakil Menteri Luar Negeri AS, Steven Goldstein, mengatakan pemerintah Ghana, Afrika Selatan, Haiti, Bostwana, dan Senegal telah memanggil Dubes AS di negara mereka terkait hal tersebut.

Staf Departemen Hubungan Internasional dan Kerja Sama Afrika Selatan telah mengungkapkan keprihatinan pemerintah terkait pernyataan vulgar Trump soal imigrasi yang turut menyebut sejumlah negara.


Berdasarkan pernyataan Kemlu Afrika Selatan, delegasinya menekankan bahwa diaspora warga Afrika memiliki kontribusi besar di Amerika Serikat. Kementerian itu juga menyebut bahwa respons internasional yang banyak mengecam komentar Trump itu menunjukan "penegasan kesatuan dan martabat rakyat serta diaspora Afrika."

Goldstein memperkirakan masih akan ada banyak negara lainnya yang akan memanggil perwakilan tertinggi AS guna mengklarifikasi pernyataan orang nomor satu di Negeri Paman Sam tersebut.

Diberitakan CNN, pernyataan tidak bermoral Trump itu dilontarkannya pada Kamis (11/1) di tengah diskusi kebijakan imigrasi bersama pejabat lainnya di Gedung Putih. Trump, menurut seorang sumber, menyebut negara-negara Afrika yang selama ini menjadi salah satu asal para imigran di AS sebagai "negara lubang kotoran".

Pernyataan itu lantas memicu kecaman keras dari publik AS, termasuk para politikus, hingga masyarakat internasional.

Pada (12/1), Trump membantah telah menggunakan kata-kata yang dimaksud. Dia secara spesifik juga menampik bahwa telah menghina negara Haiti dengan mengatakan bahwa "saya bukan orang rasis."

Goldstein mengatakan Kemlu AS telah menginstruksikan para diplomatnya untuk tidak menafsirkan atau melunakkan ucapan sang Presiden itu. Sebaliknya, dia memaparkan para diplomat AS didorong untuk mendengarkan kelihan dan kekhawatiran negara-negara tersebut terkait pernyataan Trump.

"Presiden memiliki hak untuk membuat ucapan apapun yang dia inginkan dan kami menghormati Presiden. Namun para diplomat telah diinstruksikan untuk menegaskan kembali bahwa AS tetap berkomitmen untuk menjalin hubungan dengan negara-negara tersebut dan sangat peduli terhadap rakyat mereka," kata Goldstein.

"Mereka [para diplomat AS] herus bekerja ekstra keras untuk bisa mengirim pesan itu sekarang. Itu bagian dari tanggung jawab mereka. Hal ini tidak mengubah apa yang seharusnya mereka lakukan," lanjut Goldstein. (nat)