FOTO: Pengungsi Yaman Hidup dari Mengais Sampah

REUTERS/Abduljabbar Zeyad, CNN Indonesia | Jumat, 19/01/2018 19:05 WIB

Jakarta, CNN Indonesia -- Tempat pembuangan sampah menjadi tumpuan kehidupan warga Yaman yang mengungsi dari konflik yang mendera negeri itu.

Ayoub Mohammed Ruzaiq, 11 tahun, dan keluarganya berdiri di depan gubuk yang terletak di sebelah tempat pembuangan sampah dekat Kota Hudaidah, Yaman, 9 Januari 2018.  (REUTERS/Abduljabbar Zeyad)
Meski tak sehat, tempat pembuangan sampah di Kota Pelabuhan Laut Merah Hudaidah, Yaman itu menjadi sumber penghidupan warga yang mengungsi dari konflik. (REUTERS/Abduljabbar)
Mohammed Ruzaiq, 67 tahun dan putranya Ayoub, 11 tahun.
PBB memperkirakan lebih dari dua juta orang mengungsi akibat perang saudara di Yaman, yang kian memanas pada 2015 saat koalisi pimpinan Arab Saudi melakukan intervensi untuk memulihkan kekuasaan sekutunya, Presiden Abd-Rabbu Mansour Hadi yang digulingkan pemberontak Houthi (REUTERS/Abduljabbar Zeyad)
Perang saudara di Yaman telah menelan korban lebih dari 10.000 jiwa, melumpuhkan perekonomian, menyebabkan epidemi kolera yang menewaskan hampir 2.000 orang dan mendorong negara tersebut ke ambang kelaparan. (REUTERS/Abduljabbar Zeyad)
Koalisi pimpinan Arab Saudi membantah tudingan pemberontak Houthi yang menyatakan bahwa mereka membidik warga sipil dalam serangan-serangannya. (REUTERS/Abduljabbar Zeyad)
Riyadh melihat Houthi sebagai milisi proksi dari negara saingannya, Iran. Baik Iran maupun Houthi membantah saling bekerja sama. (REUTERS/Abduljabbar Zeyad)
Keluarga Ruzaiq makan bersama di luar gubuk mereka, di sebelah tempat pembuangan sampah di Kota Hudaidah, Yaman, yang dikuasai pemberontak Houthi. (REUTERS/Abduljabbar Zeyad)
Kepala keluarga Ruzaiq, Mohammed Ruzaiq, 67 tahun, mengatakan warga Yaman tidak minta bantuan dari luar, melainkan hanya memohon pada Tuhan agar perang berhenti. (REUTERS/Abduljabbar Zeyad)