Tentara Turki Bertempur Hebat dengan Kelompok Kurdi di Suriah

Rinaldy Sofwan, CNN Indonesia | Senin, 22/01/2018 20:16 WIB
Tentara Turki Bertempur Hebat dengan Kelompok Kurdi di Suriah Ilustrasi pasukan Turki. Pasukan Turki bersama sekutu pemberontaknya bertempur melawan kelompok bersenjata Kurdi yang didukung Amerika Serikat di Provinsi Afrin, Suriah.(Reuters/Umit Bektas)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pasukan Turki bersama sekutu pemberontaknya bertempur melawan kelompok bersenjata Kurdi yang didukung Amerika Serikat di Provinsi Afrin, Suriah, pada Minggu waktu setempat (21/1).

Langkah itu meningkatkan operasi yang sudah berlangsung selama dua hari di perang sipil yang telah berkecamuk selama hampir tujuh tahun.

Di tengah permintaan AS untuk menahan diri, meriam artileri Turki menghantam sejumlah posisi YPG Kurdi, sementara roket-roket dari Suriah mengenai kota di perbatasasn Turki dan melukai puluhan orang.


Turki memulai "Operasi Olive Branch" untuk membersihkan pasukan YPG dari bagian Barat Laut Suriah dengan menembakkan artileri dan serangan udara pada Sabtu.

Turki yang menganggap YPG sebagai organisasi teroris marah atas dukungan AS. Washington, yang didukung oleh kelompok bersenjata itu dalam memerangi ISIS, menyatakan prihatin atas situasi saat ini.
"Jet kami lepas landas dan mulai menjatuhkan bom. Dan kini operasi darat berlangsung. Sekarang kita melihat bagaimana YPG kocar-kacir di Afrin," kata Presiden Recep Tayyip Erdogan, dikutip Reuters.

"Kami akan mengejar mereka, Insya Allah, kami akan menyelesaikan operasi ini dengan cepat."

Tembakan artileri dan serangan udara Turki terus menghantam desa-desa, kata YPG, sementara pertempuran hebat berkecamuk di bagian utara dan barat Afrin.

Turki, yang mendukung faksi pemberontak Pasukan Pembebasan Suriah di utara, menginginkan "zona aman" seluas 30 kilometer persegi di kawasan, kata Perdana Menteri Binali Yildrim dalam laporan HaberTurk yang dikutip Reuters.
Mereka menyerang kelompok bersenjata yang didukung AS sementara hubungan antara kedua negara sekutu NATO itu sedang sangat merenggang.

"Kami mendorong Turki untuk menahan diri dan memastikan operasi militernya tetap terbatas dalam hal durasi dan ketelatenan untuk menghindari korban sipil," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri AS, Heather Nauert.

Menurut Menteri Pertahanan AS James Mattis, Turki memberi tahu pihaknya sebelum menggelar operasi itu. "Kita akan selesaikan masalah ini," ujarnya.

[Gambas:Video CNN]

(aal)