FOTO: Momok Perang Narkotik Duterte di Manila

Reuters, CNN Indonesia | Selasa, 06/02/2018 06:02 WIB

Jakarta, CNN Indonesia -- Saat malam hari di Market 3, Manila, tak banyak orang yang berani keluar rumah. Mereka dihantui operasi pemberantasan narkotik ala Presiden Rodrigo Duterte.

Saat malam hari di Manila, Filipina, hanya sedikit di antara 700 keluarga penghuni perkampungan Market 3 yang berani keluar rumah. (REUTERS/Dondi Tawatao)
Bangunan-bangunan dari lempengan seng, semen rapuh dan papan kayu menjadi garis depan operasi pemberantasan narkotik ala Presiden Rodrigo Duterte. (REUTERS/Dondi Tawatao)
Sudah ada puluhan warga penghuni rumah-rumah kumuh itu yang tewas. (REUTERS/Dondi Tawatao)
Masyarakat tinggal dalam ketakutan sementara orang-orang bertopeng menggusur warga dan polisi menggelar operasi
Jenazah dengan luka tembak baru ditemukan beberapa jam atau beberapa hari kemudian. (REUTERS/Dondi Tawatao)
Kadang, tubuh-tubuh tak bernyawa itu hanya ditemukan berselang beberapa menit antara satu sama lain, meski polisi mengklaim tidak pernah melakukan pembunuhan ilegal. (REUTERS/Dondi Tawatao)
Operasi rutin polisi dan pembunuhan misterius menghantam perkampungan itu dengan telak (REUTERS/Dondi Tawatao)
Masyarakat pun terpaksa menyaksikan lebih banyak pertumpahan darah setelah Duterte menjabat. (REUTERS/Dondi Tawatao)
Di era kolonial Spanyol, area ini disebut Navotas dan menjadi rumah bagi kalangan menengah yang mencari penghasilan dari lautan. (REUTERS/Dondi Tawatao)
Kini, lapangan pekerjaan menyempit dan masyarakat terpaksa berpindah-pindah pekerjaan, mulai dari memulung hingga mengangkut ikan. (REUTERS/Dondi Tawatao)
Kelangkaan bahan pokok membuat orang-orang putus asa dan berubah menjadi penjahat, atau menggunakan narkotik seperti sabu. (REUTERS/Dondi Tawatao)
Menurut Duterte, narkotik jenis methampetamine itu bisa merusak satu generasi warga Filipina. (REUTERS/Dondi Tawatao)