Filipina Tangkap Pemimpin Gerilyawan Maois

Reuters, CNN Indonesia | Kamis, 01/02/2018 16:14 WIB
Filipina Tangkap Pemimpin Gerilyawan Maois Atas perintah Presiden Rodrigo Duterte, aparat keamanan Filipina dikabarkan telah menangkap pemimpin sayap militer gerakan komunis Maois, Rafael Baylosis, yang juga terlibat dalam perundingan damai. (Reuters)
Jakarta, CNN Indonesia -- Aparat keamanan Filipina dikabarkan telah menangkap pemimpin sayap militer gerakan komunis Maois. Penangkapan itu terjadi atas perintah Presiden Rodrigo Duterte setelah perundingan damai gagal dilanjutkan.

Rafael Baylosis dan rekannya berusaha kabur dari sergapan tentara dan intelijen Filipina. Tapi mereka akhirnya terpojok dan ditangkap di  Quezon City, Rabu (31/1).

Juru bicara Kepolisian Nasional Filipina, John Bulalacao mengatakan enangkapan Baylosis adalah hasil operasi intelijen berdasarkan laporan warga Quezon City.


"Baylosis diyakini merupakan Sekretaris Tentara Rakyat Baru (NPA)," kata Bulalacao merujuk sekitar 3.000 pasukan gerilyawan komunis Maois yang mengobarkan perang di wilayah pedalaman Filipina selama hampir 50 tahun terakhir.


Konflik itu telah menewaskan lebih dari 40 ribu orang dan membuat pertumbuhan ekonomi di kawasan kaya sumber daya itu tetap miskin.

Baylosis adalah tokoh pemimpin pemberontak pertama yang ditangkap setelah Filipina menghentikan proses perdamaian dengan pemberontak komunis itu akhir tahun lalu.

Penangkapan Baylosis memicu kecaman dari aktivis hak asasi manusia (HAM) dan sayap kiri. Mereka menuntut agar Baylosis dibebaskan karena dia memiliki kekebalan hukum.

Sayap politik pemberontak, Front Demokratik Nasional (NDF) memprotes penangkapan, yang digambarkan sebagai 'ilegal' dan 'pelanggaran mencolok' atas jaminan keamanan lantaran Baylosis adalah konsultan dalam perundingan perdamaian.

"Tuduhan palsu harus dihentikan," kata Renato Reyes, sekretaris jenderal aktivis Bayan (Bangsa), dalam sebuah pernyataan yang dilansir Reuters, Kamis (1/2).

"Daripada mempersekusi konsultan perdamaian, Duterte harus memulai kembali perundingan perdamaian dengan agenda substansi yang paling penting," kata Reyes merujuk Baylosis.

Pada Agustus 2016, Baylosis menjadi bagian dari 18 pemimpin pemberontak yang dibebaskan dengan jaminan dan diperbolehkan pergi ke Belanda untuk berpartisipasi dalam perundingan damai. Dia menghadapi dakwaan pembunuhan setelah tentara mengungkap kuburan massal dari 15 tersangka mata-mata pemerintah yang terbunuh di Filipina Tengah.

Pada November lalu, Duterte menghentikan perundingand amai dengan pemberontak Maois. Duterte menganggap mereka 'teroris' lantaran serangan masih terus berlangsung selama negosiasi. Dia pun memerintahkan aparat keamanan Filipina mengejar para pemimpin gerilyawan Maois.

(nat)