Kunjungi Rakhine, Dubes RI Tak Lihat Indikasi Genosida

Riva Dessthania Suastha, CNN Indonesia | Selasa, 13/02/2018 21:37 WIB
Kunjungi Rakhine, Dubes RI Tak Lihat Indikasi Genosida Ilustrasi pembantaian Rohingya di Rakhine. (Handout via REUTERS)
Jakarta, CNN Indonesia -- Duta Besar RI untuk Myanmar, Ito Sumardi, mengatakan dirinya tak melihat indikasi genosida yang terjadi di negara bagian Rakhine, wilayah yang selama ini menjadi pusat krisis kemanusiaan terhadap etnis minoritas Rohingya.

"Salah satu indikasi genosida itu ditemukannya kuburan massal. Saat kunjungan diplomatik kemarin sejumlah dubes, termasuk saya, dibawa ke Rakhine dan kami melihat memang ada kuburan tapi itu kuburan warga biasa, bukan kuburan massal," ujar Ito di sela rapat Kepala Perwakilan RI di Kementerian Luar Negeri RI, Jakarta, Selasa (13/2).

"Salah satu rekan saya, Dubes Singapura untuk Myanmar, juga mengatakan hal yang sama. Beliau yang bahkan merupakan mantan orang Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan cukup keras soal ini mengatakan tidak ada indikasi kuburan massal di Rakhine, hanya kuburan biasa," lanjutnya.


Ito membandingkan pengalamannya saat menjadi komandan Kontingen Garuda di Bosnia Herzegovina, salah satu negara di tenggara Eropa yang pernah dilanda tragedi genosida sekitar awal 1990 lalu. Tragedi itu tercatat menewaskan 100 ribu warga Bosnia yang bermayoritaskan Muslim dan warga Kroasia.
Saat itu, kata Ito, misi kelompoknya adalah membuktikan bahwa telah terjadi pembantaian massal yang sistematis. "Dan salah satunya kami menemukan kuburan massal sebanyak 4 ribu warga Bosnia," katanya.

Meski begitu, Ito tidak ingin mengatakan bahwa tidak ada tragedi kemanusiaan yang terjadi di Rakhine hingga memicu gelombang sedikitnya 700 ribu warga Rohingya mengungsi ke Bangladesh sejak Agustus lalu.

Ito mengatakan perlu ada pemeriksaan yang benar-benar independen mengenai krisis kemanusiaan yang terjadi di Rakhine dan verifikasi mengenai dugaan pelanggaran HAM yang terjadi selama ini.

Lebih lanjut, Ito mengatakan kunjungan terakhirnya ke Rakhine adalah 9 Februari lalu. Saat itu, Ito melihat ratusan tempat penampungan dan rumah tinggal baru telah dibangun untuk menampung ratusan ribu pengungsi Rohingya yang rencananya akan direpatriasi dari Bangladesh dalam waktu dekat.
"Ratusan shelter itu dibangun atas bantuan internasional juga seperti Uni Eropa dan negara lain. Indonesia belakangan diminta Myanmar membangun rumah sakit dan sekolah. Ini merupakan salah satu upaya Indonesia untuk berkontribusi membantu proses repatriasi," kata Ito.

(aal)