Tarik Ulur Kekuasaan Jacob Zuma

Natalia Santi, CNN Indonesia | Rabu, 14/02/2018 14:34 WIB
Tarik Ulur Kekuasaan Jacob Zuma Presiden Afrika Selatan Jacob Zuma diminta mengundurkan diri oleh partainya. (REUTERS/Mike Hutchings)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Afrika Selatan Jacob Zuma didera desakan mundur. Partai berkuasa yang dulu mendukungnya, Kongres Nasional Afrika (ANC) telah memberi ultimatum buat presiden bernama lengkap Jacob Gedleyihlekisa Zuma itu untuk mengundurkan diri secara terhormat, atau dipecat.

Ketua Partai ANC yang baru, Cyril Ramaphosa disebut-sebut telah melobi Zuma agar mau turun tahta secara sukarela. Sejauh kabar yang dilansir media setempat, presiden yang berusia 75 tahun itu bersikeras untuk tidak tetap menjalankan mandat. Masa jabatan kedua kepresidenan yang seharusnya baru berakhir pertengahan 2019.

"Presiden telah sepakat secara prinsip untuk mundur," kata Sekretaris Jenderal ANC, Ace Magashule seperti dilansir AFP, Rabu (12/2)


Sejak awal dilantik sembilan tahun lalu, Zuma telah dibelit sejumlah skandal. Mulai dari tuduhan pemerkosaan seorang rekan keluarga yang menyandang HIV positif, hingga skandal pembelian alutsista, suap, penyalahgunaan kekuasan, pemerasan dan pencucian uang. Semua dibantahnya.

Bagaimanapun, sejak dilantik pada 2009 Zuma lolos dari delapan mosi tidak percaya.

Terjun ke politik sejak remaja, Zuma berjuang melawan apartheid dan dipenjara bersama mendiang Nelson Mandela di Pulau Robben. Pada 1997, dia menjadi wakil ketua ANC, yang kemudian naik menjadi Wakil Presiden Afsel pada 1999.

Di tahun itu pulalah kekuasaan mulai menyeret Zuma. Sebuah kesepakatan alutsista yang diteken pada 1999, menyeretnya ke pengadilan enam tahun kemudian, dan membuat dia dipecat dari jabatan Wapres. Kasus senilai US$5 miliar itu terus menghantui Zuma hingga kini.

Tak hanya skandal pembelian alutsista, Zuma juga pernah menggunakan uang negara untuk merenovasi kediaman pribadinya di pedesaan Nkandla. Dia menghabiskan sekitar US$15 juta untuk membuat kolam renang dan ampitheater. Setelah sempat membantah, Zuma akhirnya minta maaf dan mengembalikan dana tersebut.

Pada 2016, Pengadilan Tinggi memutuskan bahwa Zuma harus menghadapi tuduhan korupsi soal kesepakatan alutsista pemerintah yang diteken pada 1999. Zuma membantah tuduhan pemerasan dan pencucian uang.

Dia pun membantah tuduhan memberikan fasilitas dan keuntungan kepada keluarga kaya keturunan India di Afrika Selatan, keluarga Gupta.

Selain, tekanan politik, Zuma pun harus menghadapi tekanan publik. Aksi protes kerap digelar rakyat yang kecewa atas performa ekonomi Afrika Selatan yang terus terpuruk di masa pemerintahannya. Zuma pun dianggap tidak berpihak kepada kaum miskin.

Meski begitu, bukan berarti pemerintah Zuma melulu berisi skandal. Sedikitnya ada prestasi yang dia torehkan, yakni di bidang kesehatan dan pendidikan. Jutaan penderita HIV AIDS mendapatkan pengobatan, sehingga meningkatkan harapan hidup rakyat Afrika Selatan. Zuma juga memperluas kesempatan bagi rakyat untuk memperoleh pendidikan.

[Gambas:Video CNN]

(nat)