Trump: Penembakan Florida karena FBI Sibuk Selidiki Rusia

Reuters, CNN Indonesia | Senin, 19/02/2018 07:29 WIB
Trump menyebut penembakan di Florida terjadi karena FBI terlalu sibuk menyelidiki intervensi Rusia yang dianggap menguntungkan sang Presiden dalam pemilu 2016. Presiden Donald Trump (kanan) menyebut FBI terlalu sibuk soal kasus intervensi pemerintahan Vladimir Putin (kiri) dalam pemilu AS. (AFP Photo/Pool/Jorge Silva)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyerang Biro Investigasi Federal (FBI) dan para anggota Kongres yang menyelidiki intervensi Rusia dalam pemilihan umum 2016. Dia menyebut fokus berlebihan aparat pada kasus itu membuat para penyidik gagal mencegah penembakan massal di Florida.

Lewat rangkaian twit pada akhir pekan lalu, dari kediamannya di Mar-a-Lago di Florida, Trump mengatakan penyelidikan dan "kebencian" politis Kongres menunjukkan Rusia telah berhasil menebar "perselisihan, gangguan dan kekacauan" di Amerika Serikat.

Dia menuding pendahulunya, Presiden Barack Obama, gagal menghentikan intervensi Rusia dalam pemilu.


"Mereka tertawa terbahak di Moskow," kata Trump dalam twit yang dikutip Reuters pada Senin (19/2).

Jumat, Jaksa Khusus Robert Mueller mendakwa 13 warga Rusia dan tiga perusahaan Rusia atas konspirasi untuk mengganggu pemilu 2016.
Dakwaan Mueller menyatakan Rusia mengadopsi sejumlah persona palsu di dunia maya untuk menyebarkan pesan yang memicu perpecahan dan mengadakan demonstrasi politis sembari berpura-pura menjadi warga Amerika.

Tahun lalu, sejumlah badan intelijen AS menyimpulkan bahwa Rusia menggunakan peretasan dan propaganda untuk menguntungkan Trump dalam pemilu. Presiden Rusia Vladimir Putin berulang kali membantah tudingan itui.

Dalam serangkaian twit pada Sabtu malam, Trump mengkritisi FBI karena tidak melihat tanda-tanda bakal terjadi penembakan yang dilakukan Nikolas Cruz (19). Dia didakwa atas pembunuhan 17 orang di Marjory Stoneman Douglas High School di Parkland, Rabu lalu.

"Sayang sekali FBI melewatkan banyak sinyal yang diberikan penembak di sekolah Florida. Ini tidak bisa diterima," kata Trump. "Mereka menghabiskan terlalu banyak waktu membuktikan kolusi Rusia dengan tim kampanye Trump -tidak ada kolusi."
Pada Jumat, FBI mengakui telah gagal menginvestigasi pertanda bahwa Cruz memiliki senjata dan hasrat untuk membunuh.

Trump tidak memberi bukti kaitan antara investigasi kasus Rusia dan kegagalan FBI mencegah penembakan di Florida.

Mantan Wakil Jaksa Agung Sally Yates marah mengetahui upaya Trump mengaitkan pembantaian Florida dengan kasus Rusia.

"Presiden kita menggunakan tragedi untuk menyerang investigasi terhadap intervensi musuh asing pada demokrasi kita. Memalukan," kata Yates di Twitter. Mantan pejabat era Obama itu dipecat oleh Trump karena menolak mempertahankan kebijakan larangan imigrasi untuk sejumlah negara mayoritas Muslim.

(aal)