Rusia Disebut Retas Sistem Pemilihan Tujuh Negara Bagian AS

LIT, CNN Indonesia | Kamis, 01/03/2018 01:12 WIB
Rusia Disebut Retas Sistem Pemilihan Tujuh Negara Bagian AS Ilustrasi peretasan. (REUTERS/Kacper Pempel)
Jakarta, CNN Indonesia -- Intelijen Amerika Serikat disebut memiliki bukti Rusia meretas sistem pendaftaran pemilih atau situs web di tujuh negara bagian sebelum pemilihan pada 2016. Menurut yang laporan NBC News, Selasa (27/2), ketujuh negara bagian tersebut adalah Alaska, Arizona, California, Florida, Illinois, Texan dan Wiscounsin.  Namun intelijen disebut tidak memberitahu negara-negara bagian itu.

Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS) menyangkal laporan NBC News tersebut. Seorang juru bicara menyebutnya, "fakta tidak akurat dan menyesatkan".

Laporan NBC News yang mengutip pejabat AS tak bernama mengatakan Presiden Barack Obama pada minggu-minggu terakhirnya di kantor meminta intelijen sangat rahasia untuk menyatukan hasil kerja berbulan-bulan dan menarik kesimpulan tersebut.


Sebelumnya, hanya negara bagian Arizona dan Illinois yang dinyatakan mengalami gangguan dalam sistem pemilihan mereka.

Badan intelijen AS menyimpulkan pada 2016 RUsia melaksanakan program meretas dan disinformasi untuk ikut campur dalam pemilihan. Program ini lalu berkembang menjadi usaha membantu kandidat Partai Republik Donald Trump mengalahkan Demokrat Hillary Clinton.


Pada 16 Februari lalu, Penasihat Khusus AS, Robert Mueller mendakwa 13 orang Rusia dan tiga perusahaan dengan tuduhan melakukan gangguan kampanye. Termasuk diantaranya Badan Riset Internet di St. Petersburg yang terkenal dengan trollingnya di media sosial.

Sebelum pemilihan dimulai, pejabat di Washington menghimbau beberapa negara bagian bahwa entitas asing tengah menyelidiki sistem mereka. Meski demikian, tidak ada yang menyebutkan pemerintah Rusia adalah oknum dibalik kejadian tersebut.

Administrasi Trump menghubungi petugas pemilihan di seluruh 50 negara bagian pada September 2017. Mereka diberitahu apakah sistem mereka ditargetkan atau tidak. Menurut laporan NBC News yang dilansir kantor berita Reuters, 21 negara bagian menjadi target dan beberapa telah diterobos.

Enam dari tujuh negara bagian yang diretas membantah dengan alasan akan melakukan penyelidikan sendiri. Sistem di tujuh negara bagian tersebut dinyatakan diretas dengan berbagai cara, termasuk akses masuk situs web negara bagian dan penetrasi database pendaftaran pemilih.


Semua pejabat negara bagian dan federal sepakat tidak ada suara yang diubah dan tidak ada pemilih yang dikeluarkan dari peran memilih akibat ulah tentara Rusia, kata NBC News seperti dilaporkan Reuters.

"Ini tidak akurat dan Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS) secara aktif bekerja sama dengan pemerintah lokal untuk melindungi sistem pemilian negara dari pelaku asing," kata juru bicara Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS) Tyler Houlton dalam sebuah pernyataan.

Kantor berita Reuters belum dapat menghubungi NBC News untuk mengomentari penyangkalan DHS ini.

Kata Houlton, dokumen rahasia dalam program tersebut didasari info awal dan tidak memvalidasi intelijen mengenai aktivitas Rusia.

Dia menambahkan bahwa DHS mengetahui 21 negara bagian yang menjadi target peretas Rusia pada siklus pemilihan 2016 dan bahwa hampir semua dari mereka "hanya aktivitas persiapan seperti pemindaian yang teramati".

"Tidak ada bukti bahwa suara diubah atau pelaku dari Rusia mendapatkan akses ke sistem yang terlibat dalam penghitungan suara," katanya.

[Gambas:Video CNN]


(nat)