Theresa May Ancam Rusia soal Serangan Racun ke Eks Mata-mata

Riva Dessthania Suastha, CNN Indonesia | Jumat, 09/03/2018 13:14 WIB
Theresa May Ancam Rusia soal Serangan Racun ke Eks Mata-mata PM Theresa May mengancam Moskow soal serangan racun yang terjadi pada seorang mantan mata-mata Rusia di Inggris. (REUTERS/Jack Taylor/Pool)
Jakarta, CNN Indonesia -- Perdana Menteri Theresa May mengatakan Inggris akan merespons dengan tepat jika Moskow terbukti berada di balik serangan racun saraf terhadap mantan mata-mata Rusia dan putrinya di Salisbury akhir pekan lalu.

"Kami akan melakukan hal yang tepat. Kami akan melakukan hal yang benar, jika terbukti serangan ini didukung oleh pemerintah," kata May kepada ITV News seperti dikutip Reuters.

"Namun mari kita berikan waktu dan kesempatan bagi polisi untuk benar-benar melakukan penyidikan."


May juga tidak menutup kemungkinan mengusir duta besar Rusia di negaranya jika kecurigaan itu terbukti.
"Tentunya, jika tindakan diperlukan maka pemerintah akan melakukannya. Kami akan melakukannya dengan tepat, di waktu yang tepat dan berdasarkan bukti terbaik," ujar May.

Sergei Skripal (66), eks mata-mata Rusia yang menjadi agen ganda di Inggris, ditemukan dalam keadaan tak sadar bersama putrinya, Yulia (33) di sebuah bangku pusat perbelajaan, di Salisbury, selatan Inggris, pada Minggu.

Pada 2006, Skripal divonis 13 tahun penjara di Rusia karena dianggap terbukti mengkhianati intelijen Rusia dengan menjadi agen tim mata-mata Inggris, MI6, sejak 1990-an.

Polisi mengonfirmasi Skripal dan putrinya diracun menggunakan agen saraf, zat kimia yang bisa melumpuhkan sistem saraf hingga menyebabkan kematian. Meski begitu, polisi menolak membeberkan nama racun tersebut dan bagaimana zat itu digunakan dalam serangan.
Hingga kini, Skripal dan putrinya masih dalam keadaan kritis namun stabil. Seorang polisi yang terlibat penyelidikan kasus Skripal, Detektif Sersan Nick Bailey, ikut terpapar racun dan tengah dalam kondisi serius.

"Dia sehat, dia sudah bisa duduk. Dia bukan Nick yang saya kenal tapi tentunya dia tengah dirawat intensif," kata Kepala Polisi Wiltshire, Kier Pritchard, usai menjenguk Nick di rumah sakit.
Sebanyak 21 orang yang dekat dengan penyelidikan kasus Skripal turut dirawat di rumah sakit.Sebanyak 21 orang yang dekat dengan penyelidikan kasus Skripal turut dirawat di rumah sakit. (REUTERS/Peter Nicholls)
Pitchard menyebut ada 21 orang yang dekat dengan penyelidikan kasus Skripal turut dirawat di rumah sakit untuk mengantisipasi paparan racun.

Di antara mereka, kata Pritchard, 18 orang telah dipulangkan setelah menjalani tes darah dan perawatan ringan di rumah sakit.
Menteri Dalam Negeri Amber Rudd bersumpah akan menyelidiki kasus ini secara tuntas dan mengadili sang pelaku siapa pun dia.

Meksi begitu, Rudd mendesak warga untuk tetap berkepala dingin menyikapi kasus ini sampai hasil penyelidikan polisi selesai.

"Ini adalah percobaan pembunuhan paling kejam yang dilakukan di tempat publik. Kami akan tindak keras dengan cara yang tepat setelah kami memastikan siapa yang bertanggung jawab," kata Rudd.

"Kami berkomitmen melakukan semua yang bisa kami lakukan untuk membawa pelaku ke pengadilan, siapa pun dan di mana pun mereka." 

(aal)