ANALISIS

Trump Bukan Presiden AS Pertama yang Diundang Kim Jong-un

CNN, CNN Indonesia | Sabtu, 10/03/2018 19:31 WIB
Trump Bukan Presiden AS Pertama yang Diundang Kim Jong-un Tidak ada Presiden AS yang mau duduk bersama pemimpin Korea Utara, kecuali Donald Trump karena tahu bahwa itu adalah hal yang paling diinginkan Pyongyang. (REUTERS/Win McNamee/Pool)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tidak ada Presiden Amerika Serikat yang mau duduk bersama pemimpin Korea Utara, kecuali Donald Trump. Menurut Stephen Collinson, jurnalis CNN desk politik yang meliput Gedung Putih, politik domestik AS dan seluruh dunia, kesempatan duduk bersama orang nomor satu di AS tersebut merupakan propaganda yang bagus bagi Pyongyang.

Hanya dengan menemui Kim Jong-un, Trump akan memberi kesempatan dinasti tersebut sebuah prestise dan propaganda pertemuan sejajar dengan Presidenn Amerika Serikat.

Karena itulah pertemuan tersebut mewakili pertaruhan besar bagi Trump dan menjadi tekanan untuk menghasilkan terobosan signifikan dengan imbalan perlucutan senjata nuklir Korea Utara sesuai tujuan Amerika Serikat.


Kesulitan itulah yang menyebabkan para pendahulu Trump menolak pertemuan yang diiyakan Trump saat ini. Karena pertemuan dengan Presiden Amerika Serikat sangat berharga bagi Korea Utara, AS selalu menekankan bahwa momen itu harus memberikan hasil yang signifikan.

Gedung Putih meyakini penderitaan akibat 'tekanan maksimum' berhasil melemahkan Korea Utara sehingga sangat ingin bernegosiasi.

Namun, Trump yang tidak berpengalaman dan selalu ingin mengambil risiko menjadi kartu terbaiknya, prestise kunjungan presiden. Itulah mengapa beberaa pengamat memperingatkan bahwa kemungkinan Trump sedang masuk perangkap.

Perkembangan menakjubkan di Korea Utara menggarisbawahi satu hal: Trump tidak seperti pendahulunya dan tidak peduli pada ortodoksi atau aturan resmi kebijakan luar negeri.


Bill Clinton

Sebelum Trump, Presiden Amerika Serikat yang nyaris bertemu pemimpin Korea Utara adalah Bill Clinton. Dia mempertimbangkan lawatan ke Pyongyang untuk menyelesaikan kesepakatan rudal di akhir masa kepresidenannya pada 2000.

Hal tersebut terungkap setelah Menteri Luar Negeri Amerika Serikat saat itu, Madeleine Albright mengunjungi Korea Utara dan bertemu dengan pemimpin Korea Utara kala itu, Kim Jong Il.

Tapi Clinton, tidak seperti Trump, tidak mau langsung begitu saja menerima sebelum memahami lebih banyak tentang apa yang bisa dicapai dalam pertemuan tersebut. Dia pun mengirim Albright untuk mengamati.

"Presiden Clinton dengan bijak mengatakan 'Saya tidak pergi sampai ini disiapkan, saya mengirim menteri luar negeri. Itu tidak membuat mereka senang," kata Albright di Brussels, Belgia, Jumat (9/3).

Setelah Albright berkunjung ke Pyongyang dan para diplomat AS menyiapkan kunjungan kepresidenan, tampak jelas bahwa Korea Utara dan AS sangat jauh berbeda soal rincian pakta rudal, yang membenarkan pemberian konsensi lawatan Presiden Clinton kepada Kim.

"Mereka terjebak dalam satu isu. Korea Utara bersedia berhenti menjual rudal, bahkan bersedia berhenti membuat rudal, tapi tidak mau menyerahkan rudal yang telah mereka miliki," kata Jeffrey Lewis pakar perlucutan senjata di Middlebury Institute of International Studies di Menterey.


"Korea Utara tampaknya menahan konsesi terakhir, sehingga mereka bisa mendapatkan yang terbesar dan pemerintah Clinton tahu bahwa kunjungan presiden adalah hal besar dan ingin menggunakannya dengan sangat hati-hati," kata dia.

George W. Bush

Pemerintahan Bush, termasuk kalangan keras seperti Menteri Pertahanan Donald Rumsfeld dan Wakil Presiden Dick Cheney melibas upaya Kementerian Luar Negeri di bawah Colin Powell untuk melanjutkan diplomasi Clinton.

George W. BushFoto: REUTERS/Mike Stone
George W. Bush


Penemuan program pengayaan uranium Korea Utara, seperti mengejek semangat pemerintahan Clinton untuk menghentikan program plutonioum Korea Utara dan menyeret hubungan kedua negara ke titik beku yang kian mendalam.

Kemudian, ketika Bush kembali melibatkan Korea Utara, itu adalah dalam kerangka perundingan enam negara, yakni kedua Korea, Jepang, Amerika Serikat, Rusia dan China. Perundingan enam negara dirancang khusus untuk memastikan Pyongyang tidak dapat menggunakan provokasi demi meloloskan keinginan mereka yakni berdialog langsung dengan Amerika Serikat.

Barack Obama

Presiden berikutnya, Barack Obama bersumpah untuk berdialog langsung dengan musuh-musuh Amerika Serikat.

Obama menemui Presiden Kuba Raul Castro dan berbicara dengan Presiden Hassan Rouhani lewat telepon. Tapi dia mengangap salah jika tunduk pada provokasi Korea Utara. "Ini pola yang sama yang kita lihat sebelumnya pada ayah dan kakeknya," kata Obama pada 2013.

"Sejak saya dilantik, satu hal yang pasti bahwa kita tidak akan menghargai provokasi seperti ini.
Anda tidak bisa memukul-mukul meja dengan sendok untuk mendapatkan keinginan Anda."

Meski begitu, selama pemerintahan Obama masih tampak antusiasme Korea Utara untuk memancing lawatan pejabat tinggi Amerika Serikat.

Pada 2009, Clinton akhirnya berkunjung ke Korea Utara dalam misi pembebasan dua wartawan AS, yang dianggap sebagai upaya Pyongyang memancing lawatan tokoh penting ke Korea Utara.



Wajah 'poker'- Clinton di foto bersama Kim Jong Il dipandang sebagai upaya mengurangi nilai propaganda dari kunjungannya.

Seorang mantan presiden lainnya, Jimmy Carter menyambangi negara itu pada 2010 untuk membebaskan seorang warga Amerika lainnya yang dipenjarakan Pyongyang.

Donald Trump

Bukan pertama kalinya, Trump memutuskan untuk mengambil tindakan yang sangat berlawanan dengan Clinton dan Obama.

Dengan menerima undangan Kim Jong Un, dia menuju medan diplomatik yang berbahaya jika kunjungan itu gagal.

Sebelum keberanian Trump dihargai, pertanyaannya adalah akan dia bakal memberikan keping terbaik Washington kepada Kim Jong Un dan kembali dengan hasil yang kurang signifikan dari tujuan Amerika Serikat, yakni melucuti senjata nuklir serta program rudal balistik antar benua Pyongyang?



Langkah mengejutkan Trump konsisten dengan sumpahnya untuk menjadi kekuatan global yang mengganggu. Dia menggunakan karakter penggertak yang khas bahwa hanya dia yang bisa membongkar salah satu konflik tersulit di dunia.

Sebuah pandangan optimistis menyatakan pemikiran dan keinginan Trump untuk memberikan dengan cepat apa yang diinginkan Pyongyang adalah jenis pendekatan yang tidak ortodoks, yang bisa mengguncang diplomasi Korea Utara dari tidurnya yang panjang.

(nat)