Mike Pompeo, Menlu Baru AS yang 'Satu Gelombang' dengan Trump

Hanna Azarya Samosir, CNN Indonesia | Rabu, 14/03/2018 10:18 WIB
Mike Pompeo, Menlu Baru AS yang 'Satu Gelombang' dengan Trump Dari metode investigasi menggunakan penyiksaan hingga sikap keras terhadap Korut, Mike Pompeo dianggap dapat menjadi Menlu yang 'satu gelombang' dengan Trump. (Reuters/Carlos Barria)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sesuai prediksi pengamat, Donald Trump akhirnya memecat Rex Tillerson dari jabatan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat dan menggantinya dengan sosok yang lebih 'satu gelombang' dengan sang presiden, Mike Pompeo.

"Kami selalu dalam 'satu gelombang.' Hubungan kami selalu baik dan itu yang saya butuhkan dari seorang menteri luar negeri," ujar Trump saat mengumumkan penunjukkan Pompeo pada Selasa (13/3).

Satu gelombang adalah istilah dalam bahasa Inggris yang merujuk pada keselarasan cara berpikir.


Pompeo memang dikenal sebagai pejabat yang sangat dekat dengan Trump. Sekitar pukul 11.00 setiap hari, Pompeo sebagai Direktur Badan Intelijen Pusat (CIA) selalu ada di samping Trump di Gedung Putih untuk menjelaskan duduk perkara sejumlah kasus.
Ketika Tillerson mengemukakan pandangan yang tak senada dengan Trump, Pompeo dengan sabar menunjukkan sejumlah "grafis mematikan" agar sang presiden tetap fokus pada pemaparan mengenai sejumlah isu intelijen.

Saat Trump dan para penasihatnya berkumpul untuk membicarakan masalah kebijakan keamanan dalam dan luar negeri, Pompeo akan langsung memberikan analisis terbaru CIA.

Dia akan menunggu hingga akhirnya Trump menghampirinya dan bertanya, "Mike, menurutmu apa yang harus saya lakukan?"

Trump sangat mempercayai pendapat Pompeo karena mantan tentara itu dianggap dapat memenuhi kriteria untuk menjadi tangan kanan sang presiden, yaitu latar belakang militer dan bisnis.
Mike Pompeo, Menlu Baru AS yang 'Satu Gelombang' dengan TrumpSaat Trump dan para penasihatnya berkumpul untuk membicarakan masalah kebijakan keamanan dalam dan luar negeri, Pompeo (kanan) akan langsung memberikan analisis terbaru CIA. (AFP Photo/Nicholas Kamm)

Lahir pada 30 Desember 1963 di West County, California, Pompeo meninggalkan kampung halamannya demi masuk Akademi Militer di West Point. Mengambil jurusan mekanik, dia lulus dengan nilai terbaik pada 1986.

Beberapa tahun menjadi tentara, Pompeo kemudian masuk Sekolah Hukum Harvard dan lulus pada 1994. Sempat menjadi editor di Harvard Law Review, Pompeo lantas menjadi asisten riset untuk mantan Duta Besar Vatikan, Mary Ann Glendon.

Setelah lulus, Pompeo bekerja di perusahaan Williams & Connolly, mengumpulkan bekal untuk mendirikan bisnis sendiri. Hingga akhirnya, ia mendirikan Thayer Aerospace di Wichita bersama sejumlah teman sekelasnya saat bersekolah di West Point.
Mike Pompeo, Menlu Baru AS yang 'Satu Gelombang' dengan TrumpSetelah lulus, Pompeo bekerja di perusahaan Williams & Connolly, mengumpulkan bekal untuk mendirikan bisnis sendiri. (Drew Angerer/Getty Images/AFP)
Pompeo meninggalkan Thayer Aerospace pada 2006 dan menjadi presiden Sentry International, perusahaan penyedia perangkat kilang minyak.

Ketika pertarungan memperebutkan kursi perwakilan Partai Republik wilayah Kansas untuk Senat digelar pada 2010, Pompeo ikut serta dan menang. Karier politik Pompeo tak pernah lepas dari kontribusi perusahaan raksasa Koch Industries yang memberikannya total US$375.500.

Enam tahun berselang, Pompeo selalu setia pada Partai Republik dan mendukung kampanye Trump. Melihat kesetiaan Pompeo, Trump memilihnya menjadi calon Direktur CIA.

Dalam uji kelayakan, Pompeo terdengar sangat mendukung semua kebijakan Trump. Dia bahkan mendukung penggunaan teknik penyiksaan dalam penyelidikan kasus terorisme, sejalan dengan pernyataan Trump selama kampanye.
Setelah menjabat sebagai Direktur CIA, Pompeo juga selalu mendukung sikap keras Trump terhadap Korea Utara.

Namun, selama itu pula, Pompeo kerap menghindari isu-isu kontroversial, terutama mengenai dugaan kolusi antara tim kampanye Trump dan Rusia.

Meski demikian, Pompeo selalu menegaskan bahwa Rusia memang berusaha mengintervensi pemilu AS pada 2016 lalu. Ia pun menganggap Rusia sebagai salah satu ancaman bagi pemerintahan AS, berseberangan dengan pandangan Trump.
Dengan pemikiran yang dianggap berimbang, ketika Trump memilih Pompeo sebagai Direktur CIA, sejumlah anggota Kongres dari Partai Demokrat pun menunjukkan dukungannya, termasuk Adam Schiff sebagai pejabat tinggi di Komite Intelijen Dewan Perwakilan.

Menurut Schiff, Pompeo adalah "orang yang mau mendengarkan dan terlibat langsung, dua kualitas kunci untuk seorang Direktur CIA." (has/has)