Rusia: Tak Perlu Selidiki Senjata Kimia, AS Sudah Jadi Hakim

Rinaldy Sofwan, CNN Indonesia | Rabu, 18/04/2018 12:40 WIB
Rusia: Tak Perlu Selidiki Senjata Kimia, AS Sudah Jadi Hakim Dubes Rusia untuk PBB Vassily Nebenzia menyatakan dugaan serangan kimia di Suriah tak perlu diselidiki. (Reuters/Mike Segar)
Jakarta, CNN Indonesia -- Rusia menyatakan tidak ada gunanya melakukan penyelidikan baru untuk menentukan pihak yang bisa disalahkan atas serangan senjata kimia di Suriah, karena Amerika Serikat dan sekutunya sudah berperan sebagai hakim sekaligus algojo.

Hal tersebut di rapat Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa soal Suriah, Selasa (17/4), yang telah digelar sebanyak enam kali hanya dalam rentang sembilan hari. Rusia bersitegang dengan negara-negara Barat karena insiden yang memicu serangan udara AS, Inggris dan Perancis itu.

DK PBB dihadapkan pada kebuntuan soal cara menggantikan penyelidikan Organisasi Pelarangan Senjata Kimia (OPCW) untuk menentukan pihak bertanggung jawab di balik serangan gas racun di Douma.


Penyelidikan OPCW berakhir pada November setelah Rusia memblokir tiga upaya DK PBB untuk memperbarui mandat organisasi tersebut. Badan yang dibentuk Dewan Keamanan pada 2015 lalu menyimpulkan pemerintah Suriah terbukti menggunakan racun saraf sarin dan beberapa kali menggunakan klorin sebagai senjata.
Usulan  AS dan Rusia yang saling bersaing untuk menggelar penyelidikan baru terkait serangan mematikan di Suriah pekan lalu tak diadopsi oleh Dewan Keamanan.

Perancis, Amerika  dan Inggris kemudian menyebarkan draf resolusi baru yang bertujuan untuk membuka penyelidikan baru, Sabtu lalu. Pembicaraan awal mengenai usulan itu digelar Senin yang akan datang.

Pernyatan keras Rusia disampaikan Duta Besar Vassily Nebenzia menanggapi upaya baru pihak Barat itu.

"Ide menciptakan mekanisme mengatribusi pertanggungjawaban penggunaan senjata kimia tak lagi masuk akal ketika Washington dan para sekutunya sudah menyimpulkan siapa yang bersalah dan pada dasarnya sudah bertindak sebagai algojo," ujarnya dalam rapat, dikutip Reuters.
Sejatinya, Rusia meminta rapat digelar terkait keadaan Raqqa, lokasi yang sempat dikuasai ISIS, dan kamp terpencil Rubkan untuk pengungsi Suriah dekat Yordania dan Irak. Kelompok teror itu dikalahkan Amerika tahun lalu, dan kini negara itu tampak tak ambil pusing.

"Rusia memanggil kita ke sini dalam rangka kampanye pesan untuk mengalihkan perhatian dari kejahatan rezim (Presiden Suriah Bashar al-Asssad)," kata Wakil Duta Besar AS untuk PBB Kelley Currie pada Dewan.

"Untuk melakukan itu, Rusia meminta Dewan untuk memfokuskan perhatiannya pada satu bagian Suriah di mana rezim Assad tak membantai warga sipil dengan bom atau senjata kimia terlarang."

(aal)