PBB Sebut Kasus Gizi Buruk di Asmat Papua Insiden Tragis

Riva Dessthania Suastha, CNN Indonesia | Rabu, 18/04/2018 15:29 WIB
PBB Sebut Kasus Gizi Buruk di Asmat Papua Insiden Tragis Ilustrasi warga Asmat. (ANTARA Foto/M Agung Rajasa)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pelapor Khusus untuk Hak atas Pangan Dewan HAM Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Hilal Elver, menyebut kasus gizi buruk yang menimpa suku pedalaman Asmat di Papua sebagai insiden tragis.

"Saya ingin menarik perhatian Anda semua pada sebuah insiden yang sangat tragis. Dalam beberapa bulan terakhir, 72 anak meninggal di Kabupaten Asmat, Papua--66 anak meninggal akibat campak dan 6 lainnya akibat gizi buruk," kata Elver dalam jumpa pers di Jakarta, Rabu (18/4).

"Karena ini memalukan bagi sebuah negara yang punya perkembangan ekonomi yang baik dan sumber daya yang melimpah, tetapi masih ada warganya yang mengalami gizi buruk."


Elver mengatakan kasus Asmat mencerminkan bagaimana gizi buruk masih menjadi masalah sangat serius bagi Indonesia, meski tingkat pertumbuhan dan produktivitas pangan terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.
Menurutnya, hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk pengelolaan pangan buruk dan minim akses kesehatan layak.

Selain itu, minim keseimbangan kualitas makanan, kata Elver, juga memengaruhi besar potensi gizi buruk di Indonesia. Menurut Bank Dunia, 92 persen populasi Indonesia mengonsumsi sayuran dan buah-buahan jauh lebih sedikit daripada yang direkomendasikan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Elver mencatat 80 juta orang Indonesia masih rentan masalah pangan. Sekitar 9 juta atau 30 persen dari jumlah anak Indonesia di bawah lima tahun berisiko terkena gizi buruk atau mengalami pengerdilan.

Bahkan, menurutnya kasus gizi buruk tak hanya terjadi di wilayah pelosok, tapi di Ibu Kota Jakarta dan sejumlah kota-kota besar lainnya di Indonesia.
Menurutnya, tidak semua warga Indonesia mendapat jumlah dan kualitas makanan yang memadai. Ketimpangan akses juga menandakan pemerintah tak bisa sepenuhnya merealisasikan ketahanan pangan meski telah didukung dengan sejumlah kebijakan.

Menurut Elver, Indonesia memiliki potensi untuk bisa sepenuhnya keluar dari masalah gizi buruk dan menjamin hak warga atas pangan berkualitas lebih baik.
Pelapor khusus PBB Hilal Elver.Pelapor khusus PBB Hilal Elver. (CNN Indonesia/Riva Dessthania Suastha)
Elver berada di Indonesia sejak 9 April lalu atas undangan pemerintah. Selain ke Jakarta, perempuan asal Turki juga turut mengunjungi sejumlah kota seperti Yogyakarta, Palembang, dan Ambon.

Dia juga sempat bertemu dengan sejumlah pejabat pemerintah dan menteri kabinet seperti Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman serta Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti. Selain pemerintah, Elver juga sempat bertemu dengan Komnas HAM dan Komnas Perempuan.
"Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada pemerintah karena telah mengundang saya berkunjung ke sini dan memfasilitasi keseluruhan perjalanan saya yang bertujuan untuk meninjau pemenuhan hak atas pangan di Indonesia," kata Elver.

(aal)