"Saya ingin menarik perhatian Anda semua pada sebuah insiden yang sangat tragis. Dalam beberapa bulan terakhir, 72 anak meninggal di Kabupaten Asmat, Papua--66 anak meninggal akibat campak dan 6 lainnya akibat gizi buruk," kata Elver dalam jumpa pers di Jakarta, Rabu (18/4).
"Karena ini memalukan bagi sebuah negara yang punya perkembangan ekonomi yang baik dan sumber daya yang melimpah, tetapi masih ada warganya yang mengalami gizi buruk."
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, minim keseimbangan kualitas makanan, kata Elver, juga memengaruhi besar potensi gizi buruk di Indonesia. Menurut Bank Dunia, 92 persen populasi Indonesia mengonsumsi sayuran dan buah-buahan jauh lebih sedikit daripada yang direkomendasikan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Elver mencatat 80 juta orang Indonesia masih rentan masalah pangan. Sekitar 9 juta atau 30 persen dari jumlah anak Indonesia di bawah lima tahun berisiko terkena gizi buruk atau mengalami pengerdilan.
Bahkan, menurutnya kasus gizi buruk tak hanya terjadi di wilayah pelosok, tapi di Ibu Kota Jakarta dan sejumlah kota-kota besar lainnya di Indonesia.
Menurut Elver, Indonesia memiliki potensi untuk bisa sepenuhnya keluar dari masalah gizi buruk dan menjamin hak warga atas pangan berkualitas lebih baik.
Pelapor khusus PBB Hilal Elver. (CNN Indonesia/Riva Dessthania Suastha) |
Dia juga sempat bertemu dengan sejumlah pejabat pemerintah dan menteri kabinet seperti Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman serta Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti. Selain pemerintah, Elver juga sempat bertemu dengan Komnas HAM dan Komnas Perempuan.
(aal)
Pelapor khusus PBB Hilal Elver. (CNN Indonesia/Riva Dessthania Suastha)