Setelah Pamer Kemesraan, Macron 'Bantai' Trump di Kongres

Rinaldy Sofwan, CNN Indonesia | Kamis, 26/04/2018 12:16 WIB
Setelah Pamer Kemesraan, Macron 'Bantai' Trump di Kongres Presiden Perancis Emmanuel Macron menentang Trump habis-habisan di hadapan Kongres, setelah sempat mengumbar kemesraan. (AFP Photo/Benjamin Cremel)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Emmanuel Macron dan Presiden Donald Trump sempat pamer kemesraan dengan mencium pipi, berpegangan tangan dan saling mengusap pundak. Namun, pemandangan itu tak lagi tampak ketika pemimpin Perancis berbicara di hadapan Kongres AS.

Pada Kamis (26/4), Macron habis-habisan menolak filosofi dan pandangan Presiden Amerika pada dunia, menentang nasionalisme "America First" Trump dan mempertontonkan sesuatu yang benar-benar bertolak belakang dengan kemesraan keduanya di Gedung Putih.

"Kita bisa memilih isolasionisme, menarik diri (dari dunia) dan nasionalisme. Ini adalah sebuah opsi. Ini bisa menggoda kita sebagai penawar sementara atas rasa takut kita," kata Macron, dengan bahasa Inggris yang fasih meski beraksen Perancis.


"Tapi menutup pintu pada dunia tidak akan menghentikan evolusi dunia. Itu tidak akan meredakan, tapi justru membakar ketakutan warga kita."
Dia mengatakan hubungan transatlantik tidak boleh disepelekan, memperingatkan bahwa internasionalisme liberal tengah dikepung sehingga dunia membutuhkan orde yang didasari nilai fundamental, peraturan hukum dan hak asasi manusia.

"Kekuatan lain dengan strategi dan ambisi terkuat kemudian akan mengisi kekosongan yang kita tinggalkan. Kekuatan lain tak akan ragu untuk sekali lagi mendorong model mereka sendiri dalam membentuk orde dunia abad ke-21," kata Macron.

"Secara pribadi, jika Anda bertanya kepada saya, saya tidak akan berbagi soal ketertarikan pada kekuatan baru, pengabaian kebebasan dan ilusi nasionalisme."

Komentar itu bertentangan dengan pernyataan Trump yang kerap memuji pemimpin-pemimpin tangan besi seperti Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden China Xi Jinping.
Macron meminta AS kembali ke multilateralisme, paham yang telah dipegang sebagian besar presiden AS pascaperang. Trump menentang tradisi itu dengan menarik diri dari kesepakatan iklim Paris dan mengkritik pakta-pakta perdagangan global, menyebut seluruh dunia merugikan Amerika.

Presiden Perancis berpendapat sistem global, yang diciptakan Amerika saat Perang Dunia II dan selama ini dibela dengan banyak pengorbanan, kini dalam keadaan kritis.

"Keadaan ini membutuhkan keterlibatan AS karena perang Anda penting untuk menciptakan dan menjaga kebebasan dunia," kata Macron.

"Amerika Serikat adalah salah satu pihak yang menciptakan multilateralisme. Anda adalah pihak yang membantu menjaga dan menciptakannya kembali."

[Gambas:Video CNN]

Kesepakatan Nuklir Iran

Macron selama ini ingin mengikat pemerintahan Trump pada sistem internasional Barat yang sudah berlangsung.

Dia ingin meyakinkan Presiden AS untuk kembali ke upaya multilateral untuk menghentikan program nuklir Iran, memerangi perubahan iklim dan menjaga globalisasi serta perdagangan bebas.

Selain itu, dia ingin memosisikan Perancis sebagai penghubung utama antara Amerika dan Uni Eropa, sebuah upaya yang prosesnya tertolong oleh guncangan politik terhadap Angela Merkel dan kepergian Inggris dari blok Benua Biru.

Macron menjelaskan bahwa dirinya dan Trump sepakat membuat kesepakatan baru terkait program nuklir Iran untuk menangkal ancaman dari program peluru kendali Teheran.
Namun, dia memperingatkan bahwa Amerika Serikat dan Perancis juga mesti menghormati pakta yang sudah ada sejak pemerintahan Barack Obama.

"Kita menandatanganinya, baik Amerika Serikat dan Perancis. Itulah mengapa kita tidak boleh menepikannya begitu saja," ujar Macron.

Sementara soal iklim, dia mengajak AS untuk "kerja sama membuat planet ini kembali hebat dan menciptakan lapangan pekerjaan baru sembari menjaga dunia."

"Kita membunuh planet kita sendiri. Mari kita hadapi ini: tak ada planet B," ujarnya, disambut tepuk tangan riuh para anggota Kongres.

(aal)