Israel Sebut Iran Bohong Soal Senjata Nuklir

Natalia Santi, CNN Indonesia | Selasa, 01/05/2018 12:25 WIB
Israel Sebut Iran Bohong Soal Senjata Nuklir Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menuding Iran berbohong soal senjata nuklir dan mendesak AS untuk kembali memberlakukan sanksi terhadap Teheran. (REUTERS/Dan Balilty)
Jakarta, CNN Indonesia -- Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menuding Iran berbohong soal senjata nuklir dan mendesak Amerika Serikat untuk kembali memberlakukan sanksi terhadap Teheran.

Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo menyatakan para pemimpin Iran berbohong kepada rakyatnya soal program senjata nuklir yang dikenal sebagai 'Proyek Amad'. Namun Pompeo menolak menyatakan apakah dokumen itu membuktikan adanya pelanggaran kesepakatan nuklir yang digeken pada 2015.

Sebagian besar bukti yang disebut-sebut Netanyahu adalah bukti yang diungkap sebelum kesepakatan nuklir 2015 ditandatangani. Teheran membantah tuduhan Israel yang menyebut Netanyahu sebagai 'gembala yang berteriak ada serigala'.


Sekembalinya dari perjalanan ke Timur Tengah, dengan pijakan terakhir ke Yordania, Pompeo menyatakan bahwa dia dan Netanyahu membahas dokumen-dokumen itu di Tel Aviv, Minggu (29/4).

Pompeo menyatakan selain Proyek Amad, Israel menemukan materi baru yang memperjelas ruang ligkup dan besaran program nuklir Iran.

"Sangat jelas bahwa Iran terus berbohong pada rakyatnya sendiri," akta Pompeo seperti dilansir Reuters.

Saat ditanya apakah informasi itu mengindikasikan bahwa Iran telah melanggar kesepakatan nuklir, Pompeo menjawab bahwa dia akan menyerahkan hal tersebut kepada para pengacara. "Pada akhirnya presiden juga akan memutuskan hal itu," kata Pompeo.

Presiden AS Donald Trump telah mengancam untuk menarik kesepakatan internasional soal nuklir Iran kecuali hal itu dinegosiasikan ulang pada 12 Mei. Selepas ucapan Netanyahu, Trump kembali mengulangi kritiknya terhadap kesepakatan nuklir Iran itu.

Pernyataan Netanyahu tidak mengejutkan negara-negara di dunia. Israel telah lama menuding Iran mengejar senjata nuklir, bahkan sebelum perjanjian diteken pada 2015.

Duta Besar Perancis di Washington DC, Gerard Araud menyatakan informasi soal aktivitas nuklir Iran di masa lalu malah menjadi fakta yang mendukung kesepakatan nuklir, bukan menentangnya.

Kalangan pengamat independen menyatakan Netanyahu tampaknya memaparkan bukti lama.

Juru bicara pemerintah Inggris membela kesepakatan nuklir Iran dengan menyatakan, "Kami tidak pernah bersikap naif soal Iran dan ambisi nuklirnya. Karena itu mengapa rezim pengawasan IAEA (Badan Atom Internasional) dimasukan dalam kesepakatan yang paling luas dan kuat dalam sejarah perjanjian nuklir internasional," kata juru bicara pemerintah Inggris seperti dilansir Reuters.

Washington sendiri telah menyimpulkan bahwa bagaimana pun Iran tidak melanggar ketentuan kesepakatan. Dua pejabat intelijen AS yang memantau program senjata nuklir Iran selama bertahun-tahun menyatakan pernyataan Netanyahu tampaknya tidak bertentangan dengan pandangan itu. (nat)