DK PBB: Teroris Bom Surabaya Pengecut

Rinaldy Sofwan, CNN Indonesia | Selasa, 15/05/2018 09:02 WIB
DK PBB: Teroris Bom Surabaya Pengecut Ilustrasi PBB kecam teror bom Surabaya. (AFP Photo/Fabrice Coffrini)
Jakarta, CNN Indonesia -- Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa mengecam keras aksi teror mematikan bom Surabaya yang terjadi beruntun sejak akhir pekan lalu.

"Anggota Dewan Keamanan mengecam keras serangan yang dilakukan secara kejam dan pengecut terhadap gereja Kristiani dan kantor polisi yang terjadi di Surabaya," bunyi pernyataan DK PBB di situs resminya, diakses CNNIndonesia.com pada Selasa (15/5).

Serangan terhadap tiga gereja terjadi pada Minggu, sementara aksi di Markas Kepolisian Resor Surabaya terjadi sehari setelahnya. Di luar pelaku, setidaknya 14 orang tewas akibat rentetan aksi yang diyakini diotaki Jamaah Ansharut Daulah ini.


"Anggota Dewan Keamanan menyampaikan simpati terdalamnya dan berduka cita untuk keluarga para korban dan pemerintah Indonesia," lanjut pernyataan itu, selain mendoakan para korban luka agar lekas membaik.
DK PBB juga menegaskan bahwa terorisme dalam bentuk apapun merupakan ancaman paling serius bagi keamanan dan perdamaian internasional.

Badan tersebut juga mendorong semua negara, sesuai dengan kewajiban masing-masing di bawah hukum internasional dan resolusi yang telah dikeluarkan, untuk bekerja sama aktif dengan pemerintah Indonesia dan semua pihak terkait.

"Anggota Dewan Keamanan menegaskan perlunya semua negara untuk memerangi, sesuai Pakta PBB dan kewajiban lain di bawah hukum internasional, hukum pengungsi internasional dan hukum HAM internasional, ancaman bagi keamanan dan perdamaian internasional akibat tindakan teroris."

Aksi teror ini diduga dilakukan oleh tiga keluarga, termasuk anak-anak. Kepala Polri Jenderal Tito Karnavian mengatakan pihaknya menyelidiki kasus ini dengan asumsi serangan dilakukan atas perintah ISIS untuk membalas pemenjaraaan Aman Abdurahman, pemimpin JAD.
Serangkaian aksi ini menyusul kerusuhan narapidana terorisme di Markas Korps Brigade Mobil Polri, jelang persidangan Aman.

Pemerintah menyebut ada sekitar 930 orang warga Indonesia yang berangkat ke Suriah dan Irak untuk bertempur dengan ISIS sejak 2013. Dari jumlah itu, 400 di antaranya pulang ke tanah air dan 100 lainnya tewas dalam pertempuran.

(aal)