Anwar Ibrahim, Pejuang Reformasi dari Balik Jeruji Besi

Hanna Azarya Samosir, CNN Indonesia | Rabu, 16/05/2018 13:55 WIB
Anwar Ibrahim, Pejuang Reformasi dari Balik Jeruji Besi Dari balik jeruji besi, Anwar Ibrahim memimpin koalisi oposisi menggulingkan rezim penguasa, membuka jalan baginya untuk melakukan reformasi impiannya. (Reuters/Olivia Harris)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kesadaran adalah matahari
Kesabaran adalah Bumi
Keberanian menjadi cakrawala
dan perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata

Sajak dari tokoh Indonesia, WS Rendra, itu terlontar dari mulut Nurul Izzah ketika membacakan surat dari sang ayah, Anwar Ibrahim, yang sedang mendekam dalam penjara pada 2015 lalu.

Puisi itu memang menjadi landasan Anwar untuk menjejakkan langkah perjuangan reformasinya sejak awal. Meski berulang kali dibui, Anwar tetap gigih memperjuangkan hak warga kecil dan reformasi.


Kegigihan itu sudah mulai membara sejak Anwar muda, tepatnya ketika tokoh kelahiran 10 Agustus 1947 itu aktif memimpin gerakan siswa Islam pada medio 1960 hingga 1970-an.

Penjara pertama

Dingin lantai hotel prodeo pertama kali Anwar rasakan pada 1974, saat ia ditangkap di bawah Undang-undang Keamanan Internal (ISA) karena menggelar unjuk rasa menentang kemiskinan dan kelaparan di daerah pinggiran.

Berlandaskan aturan tersebut, Anwar dijebloskan ke penjara selama 20 bulan tanpa perlu menjalani proses peradilan.
Sebagaimana dilansir Al Jazeera, saat itu lah Anwar menarik perhatian Mahathir Mohamad, yang kemudian naik takhta menjadi Perdana Menteri Malaysia pada 1981.

Anwar mengejutkan para rekan perjuangannya ketika memutuskan untuk bergabung dengan organisasi partai berkuasa, Organisasi Nasional Malay Bersatu (UMNO), di bawah pimpinan Mahathir.

Meniti karier politik

Dengan kepercayaan Mahathir, karier politik Anwar langsung melesat. Pada 1983, Anwar terpilih sebagai Menteri Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga sebelum mengambil alih jabatan Menteri Agrikultur dan Menteri Pendidikan.

Kiprah Anwar semakin melesat ketika menjabat sebagai Menteri Keuangan pada 1991 dan diangkat menjadi wakil perdana menteri pada 1993.

Di tangan Anwar, perekonomian Malaysia melejit. Asiamoney bahkan menobatkan Anwar sebagai Menteri Keuangan Tahun Ini pada 1996.

Kepercayaan Mahathir pun semakin kuat. Dalam buku "Malaysian Politics Under Mahathir", Diane K Mauzy, bahkan menuliskan bahwa sang perdana menteri bahkan akan memikirkan semua rumor yang berkembang mengenai Anwar semalam suntuk sebelum bertanya langsung.

"Dia akan memikirkan apakah itu semua benar, dan membawa keraguannya sepanjang malam. Ketika mendengar sesuatu, ia akan langsung menghampiri Anwar dan menanyakan apakah itu semua benar. Jika dia bilang semua tidak benar, maka pembicaraan itu langsung berakhir," tulis Mauzy.
Anwar Ibrahim, Pejuang Reformasi dari Balik Jeruji Besi (EMB)Pada pertengahan medio 1990-an, kepercayaan antara Mahathir dan Anwar semakin kuat. (Reuters)
Setahun kemudian, krisis moneter melanda dunia, tapi Anwar berhasil membawa Malaysia melalui semuanya. Ia pun ditunjuk sebagai Ketua Komite Pembangunan Bank Dunia pada 1998.

Newsweek pun menobatkan Anwar sebagai "Asian of the Year."

Tekad Mahathir untuk menyerahkan takhtanya kepada Anwar semakin kuat. Mahathir pun rehat selama dua bulan dan menunjuk Anwar sebagai perdana menteri interim.

Dalam jangka waktu tersebut, Anwar merombak pemerintahan dan membongkar semua kebusukan UMNO yang dianggap mulai rapuh akibat sistem kroni, korupsi, dan nepotisme di tubuh partai.

Musuh politik dan cikal bakal reformasi

Sejak saat itu, semua berubah. Anwar langsung dituntut atas dugaan korupsi dan pencobaan penghalangan pemeriksaan kasus sodomi yang dituduhkan atasnya.

Dipecat dari posisi wakil perdana menteri, Anwar pun memulai gerakan reformasi, membakar semangat pendukungnya untuk turun ke jalan melawan koalisi penguasa, Barisan Nasional.

Namun pada 20 September 1998, Anwar ditahan. Berbagai lembaga internasional menganggap tuntutan ini bermotif politik. Sejumlah pemimpin dunia, termasuk Wakil Presiden Amerika Serikat, Al Gore, pun menuntut pembebasan Anwar.

Dari dalam tahanan, Anwar masih terus memimpin gerakan reformasi hingga terbentuk partai multi-ras, Parti Keadilan Nasional, yang menyatukan kekuatan dengan Parti Islam Se-Malaysia (PAS) dan Partai Aksi Demokratik (DAP) untuk mendirikan koalisi Barisan Alternatif dalam pemilu 1999.
Anwar Ibrahim, Pejuang Reformasi dari Balik Jeruji Besi (EMB)Kampanye koalisi Barisan Alternatif menjelang pemilu 1999. (Reuters)
Agustus 2003, Parti Keadilan Nasional bergabung dengan Parti Rakyat Malaysia, membentuk Parti Keadilan Rakyat (PKR) yang dipimpin oleh istri Anwar, Wan Azizah Wan Ismail.

Saat bebas pada 2 September 2004, Anwar tak bisa langsung terjun ke dalam politik hingga jangka waktu lima tahun. Namun, ia berhasil membakar semangat PKR untuk ikut serta dalam pemilu 2008. PKR berhasil memenangkan 31 kursi parlemen, menjadikan mereka partai oposisi terkuat di Malaysia.

Setelah kembali ke dunia politik, Anwar langsung bergerilya, menyatukan kekuatan PKR dengan PAS dan DAP untuk membentuk koalisi oposisi Pakatan Harapan.

Pada pemilu 2013, mereka berhasil meraih suara lebih banyak dari koalisi Barisan Nasional. Namun, mereka tak berhasil menggulingkan koalisi penguasa karena tak mendapatkan cukup kursi parlemen.

Dalam pemilu Malaysia, ada 222 kursi parlemen yang diperebutkan. Koalisi atau partai yang berhasil mendapatkan 112 kursi berhak membentuk pemerintahan dan menunjuk perdana menteri.

Baru saja menghimpun kekuatan, Anwar kembali dijerat kasus sodomi oleh rezim Perdana Menteri Najib Razak hingga harus dijebloskan pada 2015.

Langkah awal kemenangan

Dari balik jeruji besi, Anwar tetap memimpin langkah Pakatan Harapan. Dengan kemurahan hati, ia pun memaafkan Mahathir Mohamad yang ingin menyatukan kekuatan dengan Pakatan harapan demi melawan rezim korup Najib.

Anwar pun sepakat menunjuk Mahathir menjadi calon perdana menteri interim yang akan menyerahkan takhta kepadanya setelah ia bebas dari bui kelak.

Setelah terpilih sebagai perdana menteri pada pemilu bersejarah pada pekan lalu, Mahathir pun mengupayakan pengampunan penuh dari raja.
Dengan pengampunan ini, Anwar tidak hanya langsung dibebaskan, tapi juga langsung dapat berpartisipasi dalam politik, melengangkan jalannya menuju kursi perdana menteri.

Kini, ia tinggal menunggu waktu untuk menjalankan satu janji dalam surat yang dibacakan oleh Nurul Izzah, sebagaimana dilansir dalam blog Anwar.

"Reformasi! Reformasi! Reformasi!" (has/has)