Korea Utara membuat rencana pertemuan 12 Juni antara Trump dan Kim Jong-un dipertanyakan. Negara tersebut menyatakan mungkin tak akan berdialog jika Washington terus menuntut pelucutan senjata nuklir secara unilateral.
"Kita lihat nanti," kata Trump kepada wartawan di kantornya, ketika ditanya apakah pertemuan itu tetap akan dilakukan. Walau demikian, dia berkeras tak akan menarik tuntutannya membersihkan Korea Utara dari nuklir.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Para anak buah Trump Rabu kemarin membahas apakah tindakan Korea Utara merupakan trik negosiasi atau upaya untuk menunda pertemuan.
Pembatalan dialog itu bakal jadi pukulan telak bagi Trump. Jika terlaksana, tatap muka dia dan Kim merupakan capaian diplomatik terbesar dalam masa jabatannya, di tengah masalah penarikan diri dari perjanjian nuklir Iran dan pemindahan kedutaan besar untuk Israel ke Yerusalem.
Trump sempat berharap banyak pada pertemuannya dengan Kim meski banyak analis sudah menyatakan skeptis Korut bakal rela menyerahkan senjata nuklirnya yang disebut-sebut bisa mencapai daratan AS.
Lihat juga:Upaya Damai dan Jejak Pengkhianatan Korut |
"Presiden sudah siap jika pertemuan terjadi," kata juru bicara Gedung Putih, Sarah Sanders, kepada Fox News sebagaimana dikutip Reuters. "Jika tidak, kami akan melanjutkan kampanye tekanan maksimum yang kini telah berjalan."
Sanders mengatakan komentar Korea Utara "bukan sesuatu yang tak biasa dalam operasi semacam ini." Pyongyang punya sejarah panjang mengancam mundur dari negosiasi jika tidak mendapatkan hal yang diinginkan.
Menteri Luar Negeri Korut, Kim Kye-gwan, meragukan pertemuan tersebut masih akan dilaksanakan.
"Jika AS berupaya memojokkan atau memaksa kita melakukan pelucutan nuklir secara unilateral, kami tak akan tertarik pada doalog semacam itu dan terpaksa meninjau ulang langkah kita menuju pertemuan tingkat tinggi tersebut."
(aal)