Najib Telepon Anwar Dua Kali Minta Nasihat Usai Kalah Pemilu

Riva Dessthania Suastha, CNN Indonesia | Jumat, 18/05/2018 13:55 WIB
Najib Telepon Anwar Dua Kali Minta Nasihat Usai Kalah Pemilu Anwar Ibrahim menyebut eks Perdana Menteri Najib Razak menghubunginya via telepon dua kali untuk minta nasihat seusai kalah dari pemilu Malaysia. (REUTERS/Olivia Harris)
Jakarta, CNN Indonesia -- Anwar Ibrahim, politikus Malaysia yang baru menghirup udara bebas di luar penjara, menyebut eks Perdana Menteri Najib Razak menghubunginya via telepon dua kali.

Pembicaraan itu terjadi tak lama setelah koalisi pimpinan Najib, Barisan Nasional, kalah dalam pemilihan umum 9 Mei lalu. Saat itu Anwar masih berstatus tahanan.

Dalam percakapannya dengan Najib, Anwar mengatakan rival yang menjebloskan dirinya ke penjara itu terdengar sangat hancur.


Anwar menyebut Najib meminta nasihat dari dirinya mengenai apa yang harus dilakukannya setelah kalah pemilu.

"Ketika dia menelepon saya di malam pemilihan umum, sebagai teman saya anjurkan dia untuk menyerah dan melanjutkan hidup," kata pria berusia 70 tahun itu, dalam wawancara dengan kantor berita Reuters, di rumahnya di pinggiran Kuala Lumpur, Kamis (17/5).

Anwar juga menyarankan Najib segera mengeluarkan pernyataan terkait hasil pemilu. Namun, faktanya Najib tidak mengeluarkan pernyataan apa pun meski Mahathir Mohamad, musuhnya di pemilu sekaligus pendahulunya telah lebih dulu mengumumkan kemenangan partai oposisi Pakatan Harapan.

Sehari setelah pemilu, Najib juga masih enggan mengakui kekalahannya. Dalam jumpa pers, Najib malah mengatakan tidak ada partai yang meraih mayoritas suara dan raja lah yang akan memutuskan siapa yang akan membentuk pemerintahan.

"Dia [Najib] hanya menghindar, dia menolak mengakui kekalahan lebih awal," kata Anwar.

Pendiri Partai Keadilan Rakyat (PKR) itu mengatakan dalam komunikasi kedua kalinya Najib memintanya memberikan solusi siapa yang bisa diajak berkonsultasi. Namun, Anwar mengaku bersikeras meminta Najib untuk tidak mendekati dan melobinya "secara serius".

"Bahkan jika dia merujuk [untuk melakukan lobi dan membuat kesepakatan tertentu] saya akan mengabaikannya [Najib]. Saya hanya mendengarkannya," papar Anwar.

"Setelah telepon kedua itu, Najib benar-benar hancur," katanya seperti dikutip The Strait Times.


Pakatan Harapan, partai oposisi kala itu, memenangkan pemilu raya secara mengejutkan dengan meraih 121 kursi parlemen jauh melampaui suara mayoritas yang dibutuhkan 112 kursi. Sementara Najib bersama Barisan Nasional hanya mampu meraih 79 kursi.

Kemenangan oposisi menjadi yang pertama dalam sejarah politik Malaysia sejak 61 tahun lalu.

Kemenangan Pakatan Harapan membawa Mahathir kembali menduduki kursi Paerdana Menteri Malaysia. Mahathir berjanji dia akan memberikan jabatannya itu kepada Anwar dalam satu sampai dua tahun ke depan.

Menurut Anwar, Mahathir merupakan orang yang tepat untuk mengisi posisi PM saat ini.
Anwar Ibrahim saat dibebaskan, Rabu (16/5).Foto: REUTERS/Lai Seng Sin
Anwar Ibrahim saat dibebaskan, Rabu (16/5).

"Mungkin dia [Mahathir] merupakan orang yang tepat di masa pembentukan pemerintahan baru ini. Sebab, saya menganggap diri saya jauh lebih moderat dan lebih peka karena pengalaman sengsara saya, saya jadi selalu memikirkan bagaiaman setiap keputusan akan berdampak pada setiap pihak," kata Anwar.

"Dan sifat ini mungkin tidak baik sekarang-sekaran ini ketika kami harus memastikan seluruh elemen dari rezim yang lama tidak muncul kembali," lanjutnya.

Ketika ditanya soal transisi jabatan Mahathir kepadanya, Anwar mengatakan, "Mahathir baru saja menduduki jabatan selama seminggu. Tidak pantas sepertinya untuk membicarakan soal transisi saat ini. Biarkan dia terus melanjutkan pekerjaannya."

(nat)