Presiden Mongolia Desak Mahathir Buka Lagi Kasus Altantuya

NDY, CNN Indonesia | Minggu, 20/05/2018 12:18 WIB
Presiden Mongolia Desak Mahathir Buka Lagi Kasus Altantuya Presiden Mongolia Battulga Khaltmaa mendesak PM Malaysia Mahathir Mohamad membuka kembali penyelidikan kasus pembunuhan model Mongolia, Altantuya Shaariibuu. (Dok. Facebook Altantuya Najib Shaariibuu)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Mongolia Battulga Khaltmaa mendesak Perdana Menteri Malaysia yang baru, Mahathir Mohamad untuk membuka kembali penyelidikan kasus pembunuhan model Mongolia, Altantuya Shaariibuu, 28 tahun, yang terjadi pada 2006.

Presiden Battulga Khaltmaa mengatakan dengan membuka kembali penyelidikan kasus pembunuhan warga negaranya tidak hanya akan membantu menegakkan keadilan tetapi juga meredakan ketegangan antara kedua negara tersebut.

"Sebagai presiden Mongolia, saya menaruh perhatian khusus kepada kasus kejahatan 18 Oktober 2006, dimana seorang warga Mongolia dan ibu dari dua anak, Altantuya Shaariibuu telah dibunuh di Malaysia," katanya kepada Mahathir melalui surat, Sabtu (19/5).



Altantuya Shaariibuu, 28 tahun ditemukan tewas di sebuah hutan di pinggir kota Kuala Lumpur, Malaysia. Tubuhnya tampak telah diledakkan dengan bahan peledak kelas militer pada 2006.

Pada 2015, dua mantan petugas polisi dijatuhi hukuman mati atas kejahatan tersebut setelah pertama kali dijatuhi hukuman pada tahun 2009 dan dibebaskan empat tahun kemudian dalam sidang banding.

Namun satu satu terdakwa, Sirul Azhar Umar melarikan diri ke Australia dan satu orang lainnya, Azilah Hadri masih ditahan di penjara Malaysia.


Sirul Azhar Umar, salah satu mantan polisi yang dinyatakan bersalah atas pembunuhan itu mengatakan bahwa ia bersedia membantu pemerintah baru dalam setiap penyelidikan yang diperbarui, asalkan ia diberikan pengampunan penuh.

"saya bersedia membantu pemerintah baru untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi asalkan pemerintah memberi saya grasi penuh," kata Sirul.

Adapun warga Malaysia menduga Altantuya dibunuh karena terkait perannya sebagai penerjemah dan keterlibatannya dalam pembelian dua kapal selam Scorpena dari raksasa pembuat kapal Jerman DCNS pada 2002.


Namun, eks-PM Malaysia Najib membantah tuduhan adanya korupsi pembelian dalam transaksi tersebut maupun keterkaitannya terhadap kasus pembunuhan Altantuya.

Koalisi Barisan Nasional yang pernah dipimpin Najib Razak dikalahkan oleh aliansi oposisi Mahathir Mohamad dalam pemilihan umum yang mengejutkan pekan lalu. Pakatan Harapan, partai oposisi kala itu, memenangkan pemilu raya secara mengejutkan dengan meraih 121 kursi parlemen jauh melampaui suara mayoritas yang dibutuhkan 112 kursi. Sementara Najib bersama Barisan Nasional hanya mampu meraih 79 kursi.

Kemenangan oposisi menjadi yang pertama dalam sejarah politik Malaysia sejak 61 tahun lalu. Kemenangan Pakatan Harapan tersebut membawa Mahathir kembali menduduki kursi Perdana Menteri Malaysia. (nat)