Warga Irlandia Rayakan Penghapusan Larangan Aborsi

CNN International, CNN Indonesia | Senin, 28/05/2018 04:55 WIB
Warga Irlandia Rayakan Penghapusan Larangan Aborsi Warga Irlandia merayakan referendum pencabutan larangan aborsi. (REUTERS/Max Rossi)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menggendong putrinya yang berusia 18 tahun, Amanda Mellet mengungkapkan hal yang mungkin dirasakan banyak warga Irlandia, setelah referendum soal aborsi lolos dengan perbandingan suara telak.

"Artinya perempuan--dan para lelaki yang menyayangi perempuan Irlandia--telah menyuarakan keinginannya dan mereka mengatakan sudah waktunya untuk perubahan. Dan mereka akan memulai perubahan sekarang," kata Mellet di Royal Dublin Society, lokasi pemungutan suara, Sabtu (26/5).

Krisis kehamilan yang dialami Mellet pada 2011 jadi langkah penting dalam perjuangannya terkait amendemen konstitusi Irlandia yang melarang aborsi di hampir semua kondisi. Dia terpaksa memilih untuk mengandung janin tak layak atau pergi ke luar negeri untuk aborsi.


Dia memilih pilihan yang kedua, dan pada Juni 2016, Dewan Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa memutuskan rezim aborsi Irlandia membuatnya mengalami "perlakuan kejam dan tak manusiawi." PBB pun meminta negara tersebut mereformasi hukumnya.

Kini, warga Irlandia menyuarakan pendapatnya.

Di bawah matahari terik di Dublin Castle, ribuan orang berteriak mendukung penghapusan aturan itu, sembari menunggu hasil akhir referendum diumumkan. Mereka tiba untuk merayakan lebih awal karena hasil hitung cepat menunjukkan kemauan mereka bakal segera terwujud.

Warga Irlandia merayakan referendum soal aborsi.Warga Irlandia merayakan referendum soal aborsi. (REUTERS/Clodagh Kilcoyne)
Ratusan pendukung hak aborsi lain berkumpul di Dublin seharian. Dr Ruth Cullen, juru bicara gerakan anti-aborsi LoveBoth, mengakui kekalahan sebelum penghitungan suara diselesaikan.

Clare Comran tengah menyaksikan penghitungan, ketika seluruh konstituensi Dublin dinyatakan mendukung pencabutan amandemen dengan suara telak, termasuk satu wilayah di mana suara dukungan mencapai 78,5 persen.

Comran mengatakan dirinya selalu berharap Irlandia akan "melangkah ke depan" dan belakangan dia menyadari ada pergeseran sikap nasional. Warga Irlandia, kata dia, "sangat perlu menerima perkembangan dan mempercayai diri."

"Sangat indah rasanya dipercaya dan menjadi manusia utuh di negara saya. Saya tak pernah merasakan itu seumur hidup sebagai warga Irlandia," ujarnya, diikuti terima kasih pada para pegiat hak perempuan.
Warga Irlandia mendukung pencabutan amandemen yang melarang aborsi, dengan suara telak.Warga Irlandia mendukung pencabutan amandemen yang melarang aborsi, dengan suara telak. (REUTERS/Clodagh Kilcoyne)
Alibhe Smyth, seorang pegiat veteran dan direktur Together4Yes, adalah salah satu perempuan itu.

Saat tiba di tempat penghitungan, dia disambut dengan gemuruh tepuk tangan dari para pendukung yang berterima kasih atas jerih payahnya.

Smyth mengatakan kepada CNN bahwa perjalanan untuk merealisasikan capaian ini sangat panjang dan menyulitkan, tapi hasilnya langsung menandakan pergeseran besar untuk Irlandia.

"Warga Irlandia jelas bersikap tegas dan menegaskan kehidupan perempuan di Irlandia adalah hal yang sangat penting. Peristiwa ini merupakan kemenangan besar untuk kesetaraan dan kebebasan bermartabat untuk hak asasi manusia--bukan hanya untuk perempuan.

Mark Hickey, yang menentang pencabutan amendemen, menyaksikan penghitungan dengan dua orang pegiat anti-aborsi lainnya.

"Kenyataan tidak didukung oleh kensensus populer," ujarnya. "Kami akan mengingat peristiwa ini sebagai kejadian yang buruk dalam sejarah."

Para anggota legislatif setelah ini diperkirakan akan memungut suara untuk memungkinkan aborsi janin berusia 12 pekan--dan pada kasus-kasus di mana ada risiko nyawa sang ibu tak akan bisa selamat di akhir tahun. (aal)