"Artinya perempuan--dan para lelaki yang menyayangi perempuan Irlandia--telah menyuarakan keinginannya dan mereka mengatakan sudah waktunya untuk perubahan. Dan mereka akan memulai perubahan sekarang," kata Mellet di Royal Dublin Society, lokasi pemungutan suara, Sabtu (26/5).
Krisis kehamilan yang dialami Mellet pada 2011 jadi langkah penting dalam perjuangannya terkait amendemen konstitusi Irlandia yang melarang aborsi di hampir semua kondisi. Dia terpaksa memilih untuk mengandung janin tak layak atau pergi ke luar negeri untuk aborsi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di bawah matahari terik di Dublin Castle, ribuan orang berteriak mendukung penghapusan aturan itu, sembari menunggu hasil akhir referendum diumumkan. Mereka tiba untuk merayakan lebih awal karena hasil hitung cepat menunjukkan kemauan mereka bakal segera terwujud.
Warga Irlandia merayakan referendum soal aborsi. (REUTERS/Clodagh Kilcoyne) |
Clare Comran tengah menyaksikan penghitungan, ketika seluruh konstituensi Dublin dinyatakan mendukung pencabutan amandemen dengan suara telak, termasuk satu wilayah di mana suara dukungan mencapai 78,5 persen.
"Sangat indah rasanya dipercaya dan menjadi manusia utuh di negara saya. Saya tak pernah merasakan itu seumur hidup sebagai warga Irlandia," ujarnya, diikuti terima kasih pada para pegiat hak perempuan.
Warga Irlandia mendukung pencabutan amandemen yang melarang aborsi, dengan suara telak. (REUTERS/Clodagh Kilcoyne) |
Saat tiba di tempat penghitungan, dia disambut dengan gemuruh tepuk tangan dari para pendukung yang berterima kasih atas jerih payahnya.
"Warga Irlandia jelas bersikap tegas dan menegaskan kehidupan perempuan di Irlandia adalah hal yang sangat penting. Peristiwa ini merupakan kemenangan besar untuk kesetaraan dan kebebasan bermartabat untuk hak asasi manusia--bukan hanya untuk perempuan.
Mark Hickey, yang menentang pencabutan amendemen, menyaksikan penghitungan dengan dua orang pegiat anti-aborsi lainnya.
"Kenyataan tidak didukung oleh kensensus populer," ujarnya. "Kami akan mengingat peristiwa ini sebagai kejadian yang buruk dalam sejarah."
Para anggota legislatif setelah ini diperkirakan akan memungut suara untuk memungkinkan aborsi janin berusia 12 pekan--dan pada kasus-kasus di mana ada risiko nyawa sang ibu tak akan bisa selamat di akhir tahun. (aal)
Warga Irlandia merayakan referendum soal aborsi. (REUTERS/Clodagh Kilcoyne)
Warga Irlandia mendukung pencabutan amandemen yang melarang aborsi, dengan suara telak. (REUTERS/Clodagh Kilcoyne)