Saudi Bantah Pernah Menahan PM Libanon di Riyadh

Reuters, CNN Indonesia | Rabu, 30/05/2018 00:22 WIB
Kemenlu Saudi membantah tudingan yang menyebut negaranya menahan PM Libanon di Riyadh ketika mengumumkan pengunduran diri pada November lalu. Perdana Menteri Libanon Saad al-Hariri mengumumkan pengunduran diri pada November lalu dari Riyadh. (Reuters/Hasan Shaaban)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Luar Negeri Arab Saudi membantah tudingan Presiden Perancis Emmanuel Macron yang menyebut bahwa negaranya menahan Perdana Menteri Libanon Saad al-Hariri ketika mengumumkan pengunduran diri pada November lalu.

Pernyataan Kementerian Luar Negeri Saudi yang dirilis pada Selasa (29/5) menyatakan tudingan Macron "tidak benar".


"Semua buki mengonfirmasi bahwa apa yang memicu ketidakstabilan Libanon dan kawasan adalah Iran dan alatnya seperti milisi teroris Hizbullah," bunyi pernyataan itu.


Sebelumnya, dalam sebuah wawancara dengan BFM TV, Macron mengatakan bahwa Hariri ditahan di Riyadh selama beberapa minggu. Ia juga menyebut berkat campur tangan Perancis, Libanon terhindar dari krisis peperangan.

Beberapa sumber yang dekat dengan Hariri sebelumnya juga mengatakan bahwa Saudi menganggap Hariri tidak berani mengonfrontasi Hizbullah sehingga menuntutnya mundur.


Hariri mengumumkan pengunduran diri pada November lalu dari Riyadh. Namun setelah kembali ke Libanon, ia akhirnya mencabut pengunduran diri tersebut.

Macron menyebut kembalinya Hariri ke Libanon, juga akibat intervensi internasional, termasuk Perancis.

Hariri sendiri membantah bahwa ia ditahan di Saudi ketika itu. Saat ini, ia sedang membentuk koalisi baru serelah pemilihan parlemen pada 6 Mei lalu. (stu)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK