Arab Saudi Lepaskan Delapan Pegiat Hak Perempuan

Reuters, CNN Indonesia | Senin, 04/06/2018 16:19 WIB
Arab Saudi dilaporkan menangguhkan penahanan delapan orang pegiat hak perempuan yang dituding berkomunikasi dengan sejumlah organisasi penentang kerajaan. Ilustrasi perempuan Arab Saudi. Sejumlah pegiat hak perempuan di negara tersebut dilepaskan setelah sempat ditahan atas tudingan berkomunikasi dengan organisasi penentang kerajaan. (AFP Photo/Fayez Nureldine)
Jakarta, CNN Indonesia -- Arab Saudi dilaporkan menangguhkan penahanan delapan orang yang dituding berkomunikasi dengan sejumlah organisasi penentang kerajaan. Namun, sembilan orang lainnya hingga kini masih ditahan.

Jaksa penuntut umum menyatakan telah menginterogasi orang-orang yang ditangkap pada bulan lalu itu. Kelompok Hak Asasi Manusia mengidentifikasi mereka sebagai pegiat hak perempuan.

Jaksa menyatakan para tahanan telah mengakui berkomunikasi dan bekerja sama dengan organisasi penentang kerajaan, merekrut orang untuk memperoleh informasi rahasia, menawarkan dukungan materiil dan emosional untuk elemen musuh di luar negeri.


Pernyataan yang dikutip Reuters pada Minggu (3/6) itu tak menyebutkan identitas para tahanan. 
Delapan orang yang dilepaskan terdiri dari lima perempuan dan tiga lelaki. Sementara sembilan lainnya, lima lelaki dan empat perempuan, tetap ditahan "setelah diperoleh cukup bukti dan atas pengakuan mereka pada dakwaan yang dituduhkan."

Sejumlah pengamat HAM internasional melaporkan penahanan setidaknya 11 pegiat dalam beberapa pekan terakhir. Sebagian besar dari mereka adalah perempuan yang sempat berkampanye mendukung hak sesamanya untuk mengemudi dan menentang kewajiban memperoleh izin saudara lelaki untuk mengambil keputusan besar.

Perserikatan Bangsa-Bangsa meminta Arab Saudi memberikan informasi terkait para pegiat yang ditahan dan memastikan hak hukum mereka dipenuhi.

Pada Minggu, kepala polisi keagamaan menyatakan menyambut baik pernyataan jaksa dan memperingatkan akan ancaman kelompok dan individu yang "mengincar keamanan dan stabilitas pemerintah."
Larangan mengemudi untuk perempuan di kerajaan itu akan dicabut pada 24 Juni. Keputusan tersebut sempat dipuji sebagai tren yang progresif, tapi penangkapan belakangan ini merusaknya.

Dua pekan lalu, pemerintah mengumumkan tujuh orang ditangkap karena melakukan hubungan mencurigakan dengan entitas asing dan menawarkan dukungan finansial untuk "musuh di luar negeri." Selain itu, sejumlah tersangka lain kini tengah dicari.

Pekan lalu, Arab Saudi melepaskan empat pegiat hak perempuan, kata sesama aktivis dan Amnesty International. Syarat pembebasan saat itu tak diketahui.

Sejumlah aktivis dan diplomat berspekulasi penangkapan baru-baru ini mngim dilakukan untuk menenangkan elemen konservatif yang menentang reformasi sosial ala Pangeran Putra Mahkota Mohammed bin Salman.
Media dukungan pemerintah melabeli orang-orang yang ditahan sebagai "agen kedutaan besar," membuat tegang sejumlah diplomat di negara sekutu penting Amerika Serikat itu.

Pangeran Mohammed dipuji para sekutu di Barat dalam rangka membuka kerajaan Muslim yang konservatif itu dan mendiversifikasi perekonomiannya yang sangat bergantung pada minyak.

(aal/aal)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK