Ramadan, KBRI Riyadh Transfer Hak 15 WNI Rp4,5 Miliar

Natalia Santi, CNN Indonesia | Sabtu, 09/06/2018 15:35 WIB
Ramadan, KBRI Riyadh Transfer Hak 15 WNI Rp4,5 Miliar Dubes RI untuk Arab Saudi Agus Maftuh Abegebriel bersama Dubes Arab Saudi untuk Indonesia Osama bin Mohammed Abdullah Al Shuaibi di depan Gedung KBRI Riyadh. (Dok. KBRI Riyadh)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Riyadh menyelamatkan hak-hak warga Indonesia (WNI) yang pernah bekerja di Arab Saudi. Selama bulan Ramadan 1439 H, KBRI Riyadh telah mengirimkan hak-hak 15 WNI yang bekerja di Arab Saudi sebesar SR 1.237.872 atau setara Rp4,58 miliar.

Keseluruhan jumlah tersebut sudah dicairkan dan dikirimkan ke rekening 15 WNI yang sudah tiba di Indonesia.

"Upaya percepatan pengiriman uang kepada WNI yang berhak dilakukan agar para WNI dapat merasakan manisnya hasil kerja keras mereka selama di Arab Saudi, apalagi menjelang Hari Raya Idul Fitri," kata Duta Besar RI untuk Arab Saudi, Agus Maftuh Abegebriel lewat rilis yang diterima CNNIndonesia.com, Sabtu (9/6).


Maftuh juga menambahkan bahwa sepanjang bulan Januari-Mei 2018, KBRI Riyadh berhasil memperjuangkan hak-hak WNI sebesar SR4.371.948 atau sekitar Rp. 16,2 miliar.

Hak-hak WNI tersebut diperoleh dari penyelesaian kasus Ketenagakerjaan dan kemudian dititipkan ke KBRI Riyadh untuk disampaikan ke rekening masing-masing WNI yang bersangkutan di Indonesia.


Sebelumnya, sepanjang tahun 2017, KBRI Riyadh juga berhasil memperjuangkan hak-hak para WNI sebanyak Rp.45 miliar atau naik dari sebelumnya Rp.32 miliar pada tahun 2016.

"KBRI Riyadh terus berkomitmen untuk melakukan upaya perlindungan maksimal bagi seluruh ekspatriat Indonesia yang berada di Arab Saudi," kata Dubes Maftuh.

Maftuh juga menegaskan bahwa KBRI Riyadh dengan gugus tugas Dipassus (Diplomat Pasukan Khusus) akan selalu melakukan ikhtiar penyelesaian kasus-kasus yang sifatnya emergency atau darurat.

Salah satunya adalah tim ini melakukan kunjungan ke beberapa Rumah Sakit termasuk Mekah Madinah untuk memastikan bahwa WNI yang sakit baik expatriat Indonesia maupun jamaah umrah tertangani dengan baik.


"Gugus tugas ini juga bertugas melakukan negosiasi dengan para kafil atau sponsor atau majikan untuk mencari jalan keluar masalah keperdataan dengan melakukan pendekatan kultural dan juga antropologis sehingga dapat diharapkan munculnya sebuah solusi yang ideal untuk semua pihak," kata dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta yang fasih berbahasa Arab tersebut.

[Gambas:Video CNN] (nat)