Saat Delegasi Korut Nikmati Hasil Kapitalisme Singapura

Reuters, CNN Indonesia | Senin, 11/06/2018 20:50 WIB
Saat Delegasi Korut Nikmati Hasil Kapitalisme Singapura Ilustrasi delegasi Korea Utara di Singapura. (REUTERS/Tyrone Siu)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tak lama setelah sekelompok diplomat berjas asal Korea Utara meninggalkan hotel tempat pertemuan dengan delegasi Amerika Serikat di Singapura, lebih banyak warga negara terisolasi itu keluar dengan pakaian santai untuk berbelanja.

Presiden AS Donald Trump akan bertemu Pemimpin Korut Kim Jong-un di pulau kecil lepas pantai Singapura pada Selasa (12/6) untuk membahas pelucutan senjata nuklir.

Untuk pemimpin Korut dan delegasi pejabatnya yang terdiri dari puluhan orang, wartawan dan staf keamanan, perjalanan langka ini jadi kesempatan untuk membangun jembatan diplomatik dan mengeksplorasi kesuksesan kapitalis Singapura.


Delegasi Korea Utara menginap di hotel bintang lima Sy Regis, di mana lobinya berhias marmer, lilin dan karya seni besar di dinding.
Dilaporkan Reuters, biaya sarapan $35 dolar atau hampir Rp500 ribu per kepala di hotel tersebut hampir sama dengan pendapatan sebagian besar warga Korut dalam satu bulan.

Di antara 30-an warga Korut yang terlihat tengah menyantap sarapan pada Senin ada beberapa orang terkuat di rezim. Mereka biasanya hanya terlihat lewat foto yang dipublikasikan media pemerintah saat berbaris menghadiri acara resmi.

Jenderal bintang empat dan wakil kepala Komite Pusat Partai Buruh, Kim Yong-chol, wakil kepala partai dan direktur Departemen Hubungan Internasional, Ri Su-yong, dan menteri luar negeri, Ri Yong-ho, adalah beberapa nama yang ada di sana.

Staf hotel meminta tamu lain agar tak berinteraksi atau memotret para warga Korut.
Staf media Korut mencoba dimsum China, kue kering dan telur goreng lalu berfoto di ruang makan utama.

Hal-hal semacam itu asing bagi sebagian besar warga Korea Utara, bahkan bagi para pejabat pemerintahan, yang jarang kali bepergian ke luar negeri dalam beberapa tahun belakang seiring peningkatan isolasi internasional.
Situasi Singapura jelang pertemuan Kim Jong-un dan Donald Trump.Situasi Singapura jelang pertemuan Kim Jong-un dan Donald Trump. (CNN Indonesia/Riva Dessthania Suastha)
Ideologi totaliter Korut yang disebut 'Juche' tak banyak menghasilkan pertumbuhan ekonomi. Alih-alih, paham yang mengedepankan kecukupan masing-masing itu hanya menyebarkan kemiskinan dan kadang kelaparan.

Badan Pangan Perserikatan Bangsa-Bangsa menyatakan seperempat balita Korea Utara yang mengikuti program perawatannya mengalami malanutrisi kronis.

McDonald's dan Alat Tulis

Pada Minggu malam, beberapa jam setelah Kim dan delegasinya tiba di Singapura, Reuters melihat sejumlah pejabat Korea Utara memesan makan malam dengan biaya di atar $100 per kepala di restoran China kelas tinggi.

Sejumlah orang lainnya lebih memilih makanan cepat saji ala Barat.

Sekelompok staf keamanan Korea Utara terpantau kembali ke hotel membawa kardus, salah seorang di antaranya membawa makanan McDonald's. Korea Utara adalah satu di antara sedikit negara di dunia yang tak mempunyai restoran cepat saji asal Amerika itu.

Dua pejabat Korea Utara, yang identitasnya tak bisa dikonfirmasi, terlihat kembali dengan kantong belanjaan dari toko alat tulis NBC Stationery and Gifts.
Para warga Korea Utara menginap di tiga lantai teratas St Regis, kata Reuters.

Lantai teratas mempunyai kamar dengan biaya lebih dari S$5.000 semalam dan Presidential Suite bisa memakan biaya S$9.000 per malam, menurut situs resmi hotelnya.

St Regis menolak berkomentar soal siapa yang menempati lantai teratas hotel, atau berapa kamar yang ditempati warga Korut.

Reuters tidak dapat mengonfirmasi bahwa Kim tinggal di Presidential Suite.

Singapura menyatakan memperkirakan akan mengeluarkan dana sekitar $15 juta sebagai tuan rumah KTT, termasuk biaya hotel Korea Utara.

(aal)